Cinta Memang Tak Berlogika
Cinta Memang Tak Berlogika, Tapi Bisa Dipidana

Cinta Memang Tak Berlogika, Tapi Bisa Dipidana – Pernah mendengar lagu lawas dari Betharia Sonata yang berjudul ‘Hati Yang Luka’? Lagu ini menggambarkan betapa seorang perempuan mencoba bertahan dalam bahtera rumah tangganya, meskipun sering kali disakiti.

“Berulang kali aku mencoba, selalu untuk mengalah demi keutuhan kita berdua, walau kadang sakit. Lihatlah tanda merah di pipi, bekas gambar tanganmu, sering kau lakukan bila kau marah menutupi salahmu.” Kira-kira begitulah sepenggal lirik yang sempat menjadi hits di tahun 1990an.

Banyak memang yang bilang cinta itu tak mengenal logika. Rasa sayang yang begitu besar terhadap seseorang, mengakibatkan apa pun perlakuan yang didapatkan sering kali diterima begitu saja. Hubungan ini sudah tentu merupakan hubungan yang tidak sehat. Segala bentuk kekerasan, tidak boleh dimaklumkan sebagai sebuah pengorbanan atas nama cinta. Di dalam rumah tangga, bentuk kekerasan ini disebut dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Sanksi Pidana KDRT

Baca juga: Kisah Letjen TNI Ali Hamdan Bogra dan 1.000 Prajurit Papua

Bentuk KDRT yang terjadi dalam rumah tangga bisa terwujud dalam beberapa aksi. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Pasal 1, menyebutkan: kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Bentuk kekerasan yang diatur di dalam undang-undang di atas, bukan hanya terbatas pada kekerasan fisik. Pengucapan verbal atau segala perbuatan yang bisa mengakibatkan terganggunya mental atau psikis seseorang pun bisa dipidana dengan undang-undang yang sama.

Cinta Memang Tak Berlogika

Untuk setiap perbuatan di atas yang terjadi di dalam rumah tangga, seorang pelaku bisa dipidana yang diatur di dalam Pasal 5, yang berbunyi: setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara:

a. kekerasan fisik;
b. kekerasan psikis;
c. kekerasan seksual; atau
d. penelantaran rumah tangga.

Sanksi pidanya diatur di dalam Pasal 44 yang berbunyi:

(1) Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).

(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).

(3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak Rp 45.000.000,00 (empat puluh lima juta rupiah).

Jadi para pelaku kekerasan baik fisik maupun verbal, apakah masih mau berlindung dalam nama cinta? Segala bentuk kekerasan yang bisa dipidana, dapat dilaporkan oleh orang lain maupun keluarga yang menyaksikannya.