Corona Masih Mengintai, Masyarakat Jangan Abai
Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet (foto : antara)

Kehidupan masyarakat di Indonesia sudah bisa dikatakan hampir berjalan seperti sedia kala, ketika pandemi Covid-19 (virus corona) belum melanda. Terlihat di jalanan ibu kota betapa kemacetan sudah kembali menjadi pemandangan sehari-hari.

Meningkatnya aktivitas masyarakat bukan hanya terlihat dari tingkat kemacetan saja. Bahkan pada Senin (19/4/2021), sebuah platform yang mengukur kualitas udara iqair.com menempatkan Jakarta sebagai Kota terburuk keempat di dunia.

Indeks udara dengan nilai 152 tersebut dikategorikan sebagai udara yang tak sehat dengan polutan PM 2.5. Ini adalah imbas dari polusi udara yang dihasilkan oleh baik kendaraan bermotor maupun faktor lainnya. Dapat disimpulkan bahwa, Jakarta sudah normal.

Masyarakat Sudah Tak Peduli Dengan Corona

Kebijakan pemerintah yang setengah hati dalam penanggulangan wabah ini, membuat masyarakat menjadi acuh. Situasi ini diperparah dengan adanya pernyataan dari Jubir Satgas Penanganan Covid-19, bahwa angka kasus Covid-19 di Indonesia telah melandai.

Padahal, jumlah tes yang dilakukan oleh pemerintah masih belum bisa dikatakan memenuhi standar. Seperti yang dilansir dari laman web Our World in Data/Coronavirus, jumlah tes yang dilakukan per hari di Indonesia tidak konsisten. Contohnya pada tanggal 7 Maret 2021, jumlah tes yang dilakukan hanya 3.002 orang saja, padahal di hari yang lain bisa berada pada angka di atas 30 ribu.

Maka apakah bisa dikatakan angka kasus Covid-19 di Indonesia sudah benar-benar melandai? Padahal angka okupansi pasien yang terdapak virus corona di Wisma Atlet Jakarta dikatakan meningkat lagi, dua minggu paska libur paskah.

Baca Juga : Apa yang Terjadi Saat Tubuh Beradaptasi dengan Puasa?

Mungkin juga masyarakat merasa, dengan adanya vaksinasi yang telah dilakukan, maka corona sudah bukan lagi menjadi ancaman. Padahal untuk mencapai herd immunity, pemerintah harus melakukan vaksin terhadap sekurang-kurangnya 70% dari total masyarakat. Dan angka ini masih jauh dari realisasi.

Larangan Mudik yang Bisa Didispensasikan

Padahal belum saatnya kita melonggarkan masker dan berkerumun di sebuah tempat. Namun, pada kenyataannya, semua tempat perbelanjaan maupun resto dan café sudah beroperasi seperti biasa.

Kebijakan pembatasan sosial tarik ulur inilah yang menyebabkan masyarakat juga sudah merasa bosan. Pemerintah dinilai tidak serius dalam menanggulangi wabah ini.

Larangan mudik yang dikeluarkan oleh Satgas Covid-19 dengan surat edaran pun kemudian diusulkan untuk diberikan sedikit kelonggaran dengan dispensasi. Usulan ini diutarakan oleh Wakil Presiden, K.H Ma’ruf Amin. Ia meminta agar para santri di seluruh Indonesia diperbolehkan untuk bisa mudik, pada Hari Raya Idul Firtri nanti.

Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur bahkan sudah memberikan dispensasi bagi para santri di Jawa Timur untuk bisa mudik pada saat Lebaran nanti. Pengecualian ini bahkan sudah diinstruksikan kepada petugas posko-posko penyekatan yang bertugas mengantisipasi gelombang mudik nanti.

Pemberlakukan kebijakan dengan pengecualian ini merupakan preseden yang tidak elok yang dipertontonkan oleh pejabat negara. Bagaimana masyarakat bisa menaati sebuah peraturan, jika pemerintah sendiri tidak bisa konsisten dengan aturan yang dibuatnya?