Covid Tak Meluruhkan Makna Ramadan di Sisar Matiti
beritapapua.id - Covid Tak Meluruhkan Makna Ramadan di Sisar Matiti - TribunBatam

Covid Tak Meluruhkan Makna Ramadan di Sisar Matiti – Kabupaten Teluk Bintuni, sebagai daerah dengan toleransi yang sangat tinggi merupakan percontohan kehidupan beragama dengan seribu nilai keakraban antar masyarakat.

Bulan Ramadan di Teluk Bintuni merupakan bulan penuh kesucian yang dijelang dengan merekatkan kembali semangat persaudaraan, terutama antar masyarakat. Satu keunikan dari Teluk Bintuni pada saat Ramadan adalah adanya acara buka bersama. Acara ini dilakukan setiap hari di masjid-masjid yang berada di Teluk Bintuni.

Menu Takjil yang disajikan bervariasi dan khas sesuai dengan masakan keseharian masyarakat Teluk Bintuni. Tidak disediakan secara khusus, hampir semua warga yang mengikuti buka bersama ini memberikan hantaran sebagai bentuk partisipasi. Hal ini juga dilakukan untuk mengikat tali silaturahim antar warga.

Saat adzan maghrib berkumandang, warga pun menyantap bersama menu takjil tersebut dan dilanjutkan dengan Shalat maghrib. Memupuk pemahaman agama Islam dari latar belakang yang berbeda, menjadi sebuah makna ramadan yang dinantikan oleh kaum Muslim di Teluk Bintuni, baik itu pendatang maupun penduduk asli dan nusantara.

Baca Juga: Pasokan Masker dan Hand Sanitizer Mulai Normal

Mengubah Tradisi Sejenak, Mendalami Makna Ramadan

Namun, ada yang berbeda pada Ramadan di Tahun 1441 Hijriyah ini. Mewabahnya Coronavirus Disease-19 (Covid-19) secara nasional dan sudah berimbas ke “Negeri Sisar Matiti”. Membuat tradisi yang telah dilakukan turun temurun, harus diubah sejenak untuk menekan angka persebaran virus di Teluk Bintuni.

Sejak adanya imbauan dan anjuran dari Majelis Ulama Indonesia agar masyarakat tidak melakukan Shalat berjamaah dan Tarawih sendiri-sendiri di rumah, maka kegiatan buka bersama di masjid-masjid Teluk Bintuni pun harus mengikuti hal yang sama.

Ini tak otomatis menjadikan tradisi ini dihilangkan. Tapi kesadaran masyarakat akan bahaya virus corona yang mengintai, merupakan satu hal yang menyebabkan tradisi ini harus ditunda agar Ramadan tak kehilangan makna.

Kebiasaan ibadah di Masjid maupun Tarawih yang biasanya dilakukan secara berjamaah, disyiarkan dengan berbagai aktivitas keagamaan yang digeser ke rumah, tanpa mengurangi nilai ketaatan.

Bahkan di saat-saat seperti ini, nilai-nilai ke-aku-an kita tekuk. Saatnya menempa diri untuk menjadi bagian dari manfaat yang kita datangkan dengan tidak melakukan kegiatan yang bisa menjadi potensi penyebaran virus.

Ramadan tak akan kehilangan makna, Lebaran tak kehilangan fitrinya. Dalam kesendirian dan keluarga, kita akan jelang kemenangan bersama. Melawan Covid-19 dan nafsu serta menjauhi segala larangan.