Dampak Pandemi di Bulan Ramadan Bagi Umat Islam Indonesia
beritapapua.id - Dampak Pandemi di Bulan Ramadan Bagi Umat Islam Indonesia - CNN Indonesia

Dampak Pandemi di Bulan Ramadan Bagi Umat Islam Indonesia – Kita memang sedang berada di tengah situasi yang oleh Yuval Noah Harari dalam sebuah artikel berjudul The World after Coronavirus disebut sebagai eksperimen sosial berskala besar. Keputusan-keputusan yang di masa normal butuh pertimbangan berlarut-larut, kiwari harus diputuskan dalam hitungan jam. Itulah watak kedaruratan.

Seperti diketahui, di bulan ramadan ini menjamurnya imam baru shalat tarawih merupakan efek domino dari himbauan untuk tidak melakukan shalat tarawih berjamaah di masjid-masjid, mushola-mushola, atau aula-aula. Akibatnya, orang lalu berdiam di rumah, kerja di rumah, dan ibadah di rumah.

Barangkali bukanlah masalah yang berarti, kalau kita sekadar menjadi imam shalat lima waktu yang hanya menyunahkan bacaan surat pilihan selepas al-Fatihah pada dua rakat awal. Tapi yang satu ini berbeda. Ini adalah shalat tarawih, yang berapapun Anda memilih jumlah rakaatnya (8 atau 20), tetap saja mengharuskan improvisasi surat pilihan.

Baca Juga: Mengenal Pembatasan Sosial Berskala Besar

Kecanggihan Teknologi Masa Kini

Meski begitu, sekarang kita telah dimudahkan oleh banyak hal. Kecanggihan teknologi adalah salah satunya. Dan ini mungkin sangat membantu di tengah kegalauan fenomena masifnya imam baru tersebut. Lihat saja betapa meruahnya media-media daring menayangkan panduan demi panduan, mulai dari niat puasa Ramadan, urutan surat pilihan bakal shalat tarawih, hingga bacaan bilal shalat tarwih yang terbukti cukup digandrungi masyarakat digital.

Saya kira, yang demikian itu menegaskan bahwa ketergantungan umat manusia terhadap teknologi sedang berada di puncaknya. Dan, situasi ini mungkin masih akan terus berlangsung, kendati pandemi telah hengkang dari muka bumi.

Kabar baiknya, Kiai-kiai kampung tak mau kalah. Serupa dengan itu, ustaz-ustaz di pesantren perlahan namun pasti mulai terampil dengan layar gawainya, melakukan siaran langsung kajian kitab atau hadis tertentu di kanal-kanal media sosial mereka.

Mengutip seorang pengamat media sekaliber Savic Ali, bahwa internet itu laksana sungai besar pengetahuan. Setiap orang diandaikan meneguk air pengetahuan dari sana. Masalahnya, arus besar sungai pengetahuan itu semakin ke mari semakin tercemar oleh limbah-limbah politik, bisnis, dan tentu saja “agama”.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Menguras sungai yang kelewat besar dan deras tentu saja adalah upaya yang amsyong bin sia-sia belaka. Dengan begitu, demikian Savic, win-win solution yang paling masuk akal tanpa menciderai khitah kebebasan berpendapat adalah dengan memperbanyak “mata air” untuk menetralisir aliran sungai yang kian tercemar. Dan, melimpahnya ustaz-ustaz pesantren atau kiai-kiai kampung—biasanya mereka juga merupakan jebolan pesantren— di dunia digital adalah bagian dari memperbanyak “mata air” itu.