Dana Riset Vaksin Virus Corona 200 Miliar
beritapapua.id - Dana Riset Vaksin Virus Corona 200 Miliar - Bisnis.com

Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) berhasil mengumpulkan dana hingga Rp200 miliar untuk mengembangkan vaksin virus corona. Anggaran itu sendiri dikumpulkan dari berbagai instansi penelitian maupun perguruan tinggi.

Mengutip katadata.com, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mengatakan dana tersebut tidak hanya digunakan untuk pengembangan vaksin. “Untuk obat, penguatan screening dan diagnosa melalui tes kit, hingga penyediaan ventilator,” ujar Bambang dalam video conference, Rabu (27/5).

Bambang juga mengatakan bahwa Kemenristek sebelumnya  sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp 5 miliar untuk penelitian vaksin corona. Dengan tambahan Rp 200 miliar, dia optimis dana pengembangan prototipe vaksin dan teknologi corona cukup memadai.

Penelitian ini sendiri hanya bertujuan untuk menemukan prototipe vaksin virus corona. Apabila prototipe telah ditemukan, selanjutnya akan dilakukan tahapan uji klinis. Untuk produksi massal nantinya akan diserahkan kepada sektor industri dalam hal ini perusahaan swasta ataupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Proyek ini sendiri dikembangkan oleh tim Konsorsium Covid-19 besutan Kemenristek. Saat ini proyek masih dalam tahap pengembangan protein rekombinan.

Presiden Joko Widodo juga telah meluncurkan 55 produk inovasi penanganan wabah covid-19 di Indonesia. Beliau juga menegaskan bahwa dengan adanya puluhan produk inovasi yang dihasilkan Konsorsium Covid-19, merupakan momentum baru bagi kebangkitan bidang sains dan teknologi di Indonesia.

Baca Juga: Masker Kain Kim Kardashian Dalam Satu Jam Laris Terjual

Corona di Indonesia adalah Tipe Baru

Seperti yang dilansir dari tribunnews.com, tipe virus corona covid-19 yang menyebar di Indonesia disebut berbeda dengan 3 jenis virus covid-19 di dunia. Virus tersebut diyakin sudah mengalami mutasi sehingga berbeda dengan virus lainnya.

Dilansir dari detik.com, Virolog Ian Jones dari University of Reading, Inggris, menjelaskan virus ribonuclein acid (RNA) seperti Corona memang secara alami terus bermutasi. Hal ini terjadi karena ada kecacatan dalam proses replikasi.

Saat virus Corona menginfeksi sel, virus akan membajak fungsi sel untuk menciptakan jutaan virus baru dengan informasi genetik yang sama. Dalam prosesnya kadang terjadi ‘salah ketik’ informasi genetik dan ini yang disebut mutasi. Semakin virus corona menyebar luas menginfeksi orang-orang maka akan semakin banyak mutasi yang bisa muncul.