Jejak Daniel Sinaga di Dunia Pendidikan, Bagi Distrik Kobakma, Papua
beritapapua.id - Daniel Leonard Sinaga. Foto: Daniel Leonard Sinaga

Daniel Sinaga di Dunia Pendidikan, Bagi Distrik Kobakma, Papua – Usia muda merupakan tahapan dimana kebanyakan orang mengisinya dengan berjibaku untuk membentuk masa depan, maupun kehidupan percintaan. Sekelumit warna dalam satu bagian hidup tersebut, muncul sebagai spektrum yang menghiasi hidup.

Bagi kebanyakan orang, usia 25 tahun menjadi masa dimana pencarian diri akan mencari jalan untuk membentuk kestabilan finansial. Corak usia yang dipenuhi dengan masa hura-hura dan rumitnya menata kehidupan menuju jenjang rumah tangga.

Tapi tidak bagi Daniel Leonard Sinaga. Pemuda yang berasal dari medan ini, pada usia 25 tahun justru terobsesi pada perkembangan pendidikan di daerah-daerah terluar di Indonesia. Kepedulian Daniel pada dunia pendidikan ini yang menghantarnya untuk mengikuti program SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristedikti).

Gayung pun bersambut. Pada tahun 2015, di usianya yang masih sangat muda, Daniel menjalani dinasnya menjadi guru di Kabupaten Mamberamo Tengah, Distrik Kobakma, Papua. Daniel yang sebelumnya bergabung dengan komunitas 1.000 Guru dan Kelas Inspirasi, kini berkesempatan langsung untuk terjun bertugas di tengah masyarakat, seperti dambaannya.

Papua adalah cerita tentang sepenggal surga di Indonesia. Bagi Daniel, kesempatan untuk mengabdi sebagai guru di Papua merupakan sebuah anugerah, dimana ia bisa menikmati keindahan alam setiap harinya. Menjadi saudara bagi suku-suku asli yang ditemuinya merupakan tambahan pengalaman yang akan selalu menjadi jejak kerinduannya untuk kembali ke Papua.

“Sukanya bisa setiap hari ketemuan sama anak-anak dan mereka tersenyum sambil menyapa, bisa menikmati alam indah di Papua dan hasil pertanian yang melimpah, ketemu banyak orang baik dari suku asli dan pendatang semua jadi saudara disana,” ujar Daniel ketika menceritakan pengalamannya di Papua.

Baca Juga: Usai Shalat Tarawih Berjamaah, Warga Sidoarjo Lakukan Rapid Test

Berkesempatan Merasakan Langsung Keramahan Orang Papua

Amplifikasi tayangan media, seolah menjadikan Papua adalah sebuah negeri antah berantah dengan segala kekacauannya. Daniel berkesempatan untuk merasakan langsung betapa keramahan adalah ciri khas orang Papua.

“Waktu pertama sekali saya sampai disana, hari minggu pagi saya langsung turun ke acara ibadah sekolah minggu saya diterima dengan sangat baik  bahkan selain anak-anak dan juga oleh kakak pengajar sekolah minggu di gereja tersebut. Anak-anak ramah dan tersenyum setiap kali kami bertatapan mata. Itu sangat menyenangkan” lanjutnya menceritakan pengalaman selama mengajar di Papua.

Mendekati anak-anak Papua dalam tugasnya mengajar bukan menjadi sebuah tantangan yang sulit. Terbukanya anak-anak dan masyarakat sudah menjadi jalan masuk yang memudahkan tugas Daniel selama mengajar di sana.

Masalah Pendidikan yang Butuh Perhatian Lebih Pemerintah

Jejak Daniel Sinaga di Dunia Pendidikan, Bagi Distrik Kobakma, Papua
beritapapua.id – Daniel Sinaga bersama murid-muridnya di tempat ia mengajar. Foto: Daniel Sinaga

Masalah pendidikan merupakan masalah klasik di daerah-daerah tertinggal dan terluar di Indonesia. Penggunaan kurikulum tanpa memahami kondisi per daerah menjadi sebuah kendala yang harus bisa dicari solusinya. Hal ini yang menjadi perhatian dari Daniel selama mengajar di Distrik Kobakma.

“Soal kurikulum ini yang perlu diperhatikan saya sangat menyarankan agar kurikulum daerah 3T dibuat berbeda dengan daerah perkotaan. Sebab sangat sulit guru mengajar harus menyesuaikan dengan yang ada di kurikulum nasional,” kritiknya mengenai pendidikan di Papua.

Kurangnya tenaga pengajar di sana juga menjadi penyebab tidak bisa optimalnya dunia pendidikan di daerah terluar. Pemenuhan jadwal dari pelajaran, terkadang membuat seorang guru harus mengajar di luar kompetensinya.

Di samping itu, Daniel ingin meningkatkan minat baca dari anak-anak dengan mendirikan lapak baca yang bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Meningkatnya literasi menjadi modal dari pengembangan sumber daya manusia.

Jejak perjalanan Daniel tidak akan berhenti sampai di sini. Rentangan potensi dari kegigihan dan keinginan untuk mendedikasikan hidupnya pada dunia pendidikan masih merupakan jalan yang panjang. Papua adalah sepenggal cerita Daniel yang menjadi manfaat bersama.