Dapur Alam dan Pangan Kehidupan Masyarakat Bintuni
Dapur Alam dan Pangan Kehidupan Masyarakat Bintuni

Dapur Alam dan Pangan kehidupan Masyarakat Bintuni – Minimnya sumber informasi dan etnografi seputar Kabupaten Teluk Bintuni mengakibatkan ketidaktahuan masyarakat terhadap wilayah geografis maupun masyarakat Teluk Bintuni yang merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Manokwari. Wilayah Teluk Bintuni memiliki vegetasi hutan yang luas yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Disamping kekayaan lautnya yang juga sangat luas. Hal ini tergambarkan dalam lambang kabupaten Teluk Bintuni yaitu daratan dan gunung melambangkan kekayaan hasil hutan dan mineral.

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pegunungan, sistem perladangan yang digunakan hingga kini masih sistem ladang berpindah dan tebang pilih tanaman. Ladang mereka hanya memiliki varian tanaman yang sedikit sebagai pendukung dalam keberlangsungan hidup mereka. Mereka hanya menanam umbi-umbian, jagung, kacang dan sayuran. tanaman yang mereka tanam di ladang masih sebagai sumber utama kehidupan mereka yang masih tradisional dan sederhana menyebabkan variasi makanan lokal yang menjadi makanan tradisional terbatas pada ubi jalar (petatas), singkong (kasbi), talas (keladi), daun melinjo (genemon), daun gedi, dan papeda (terbuat dari sagu termasuk makanan tradisional dari Bintuni) sebagai makanan sehari-hari mereka.

Melalui sosialisasi dan pembauran masyarakat asli dengan warga pendatang yang banyak membawa perubahan, masyarakat kampung sudah semakin maju namun masyarakat tidak juga melupakan kehidupan tradisional warisan nenek moyang mereka.

Baca Juga: Kedudukan dan Peran Perempuan di Tanah Bintuni

Pola Kehidupan Masyarakat Teluk Bintuni

Pola kehidupan masyarakat Teluk Bintuni dipengaruhi oleh faktor geografis dimana mereka dulu berasal dan kini bertempat tinggal. Relokasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menjadikan warga kampung berada dalam kehidupan transisi di setiap aspek kehidupan. Mereka kemudian bersosialisasi dan beradaptasi dengan warga pendatang dan lingkungan sekitar yang baru. Pola kehidupan masyarakat asli yang mengandalkan hasil hutan dengan cara berburu di hutan, sedikit meramu dan bercocoktanam, kini mengalami peruahan. Pengolahan bahan pangan berbahan baku lokal semakin bervariasi dan berkembang.

Pada dasarnya makanan khas Teluk Bintuni tidak jauh berbeda dengan makanan tradisional masyarakat Indonesia bagian timur lainnya. Papeda juga merupakan makanan khas terutama bagi mereka yang tinggal di pesisir pantai teluk Bintuni. Papeda merupakan produk olahan lokal yang unik.