Dari Mana Asal Kain Bendera Merah Putih?
beritapapua.id - Dari Mana Asal Kain Bendera Merah Putih? - KabariNews

Brigjen TNI (Purn) Lukas Kustaryo menuturkan kisah asal-usul kain bendera merah putih. Kala melihat Fatmawati tengah menjahit Sang Saka Merah Putih, Kustaryo merasakan hal yang mengganjal. Menurutnya, ukuran bendera itu terlalu kecil. Lantas ia berniat mencarikan kain yang lebih besar dan lebih rupawan.

“Kalau tak salah Bu Fat sudah mempunyai kain seprai putih yang cukup panjang,” ujarnya seperti dikutip dari tribunnews.

Syahdan, Kustaryo mencari kain merah sebagai pelengkap bahan bendera Indonesia itu. Ia pun menyusuri rel KA dari Pegangsaan sampai Pasar Manggarai dalam misi mencari kain merah. Dalam penesulurannya itu ia mendapati kain merah elok yang berkibar di pinggir jalan. Itu adalah kain dari tenda warung soto pinggir jalan.

“Saya tak lagi mikir jenis kainnya bermutu atau tidak. Meski saya lihat sudah tidak begitu bagus bahkan sudah robek, pokoknya kain tersebut masih bisa dipakai,” kenangnya.

Tanpa pikir panjang, Kustaryo menyodorkan uang 500 ribu rupiah sebagai mahar kain merah warung soto itu. Ia pun pulang dengan bahan berwarna abang itu di gegamannya.

Selang beberapa tahun setelah kemerdekaan, Kustaryo bertemu dengan Fatmawati di Yogyakarta. Perempuan yang akrab disapa Bu Fat ini mendapati Kustaryo bertanya ihwal kain dari bendera merah putih yang berkibar saat proklamasi. Kustaryo bertanya apakah kain yang digunakan adalah kain pemberiannya.

“Bu Fat menjawab, benar! Kain merah yang saya jahit itulah pemberian Saudara. Saudara memang sungguh berjasa. Terima kasih … saya sampai lupa,” begitu jawaban Ibu Fat seperti yang ditirukan Kustaryo.

Baca Juga: Kangguru Walabi dari Tanah Papua

Ketika Sejarah Berseberangan Berbeda dengan Kesaksian

Fatmawati punya cerita sendiri ihwal asal-usul kain bendera merah putih. Dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Volume 1, yang terbit tahun 1978, terungkap dari mana bahan bendera Indonesia itu ia dapatkan. Dilansir dari historia, seorang perwira Jepang datang kepadanya dengan membawa kain dua blok.

“Yang satu blok berwarna merah sedangkan yang lain berwarna putih. Mungkin dari kantor Jawa Hokokai,” kata Fatmawati.

Menurut catatan tersebut, pemberian kain sebagai bahan bendera memiliki hubungan dengan janji Jepang soal kemerdekaan Indonesia. Dengan kain itulah Fatmawati menjahit Sang Saka Merah Putih.

Perwira Jepang yang memberikan Bu Fat kain adalah Chairul Basri. Hal ini diungkapkan olehnya dalam memoarnya yang berjudul ‘Apa yang Saya Ingat’. Chairul Basri memperoleh kain itu dari Hitoshi Shimizu, kepala Sendenbu (Departemen Propaganda). Ia diminta Shimizu untuk mengambil kain merah putih dari sebuah gudang Jepang di daerah Pintu Air, Jakarta Pusat.

“Saya diminta oleh Shimizu untuk mengambil kain itu dan mengantarkannya kepada ibu Fatma,” kenang Chairul.

Keterangan ini semakin diperkuat pernyataan Fatmawati kala ia bertemu dengan Shimizu pasca kemerdekaan. Pada 1978, Hitoshi Shimizu diundang Presiden Soekarno untuk menerima penghargaan dari pemerintah Indonesia atas jasanya merajut hubungan Indonesia-Jepang. Momen itulah di mana Fatmawati bercerita mengenai kain merah putih bendera Indonesia.

“Pada kesempatan itulah ibu Fatmawati bercerita kepada Shimizu bahwa bendera pusaka kainnya dari Shimizu,” kata Chairul Basri dalam memoarnya, Apa yang Saya Ingat.