Rachel Vennya
Dari Rachel Vennya Kita Belajar

Hiruk pikuk dunia selebritas kita sedang dihebohkan oleh gagalnya pernikahan pasangan selebgram, Rachel Vennya dan Niko Al Hakim. Pasangan yang menjadi idola para remaja ini sedang menjalani proses cerai di pengadilan agama. Banyak yang mencibir, banyak pula yang bersimpati.

Alasan di balik perceraian mereka, biarlah hakim dan mereka sendiri yang tahu. Lantas, apa saja faktor yang dapat menyebabkan perceraian? Secara hukum, hanya alasan-alasan yang memenuhi unsur dalam peraturan perundangan lah yang bisa dijadikan pertimbangan hakim untuk memutus sebuah pernikahan.

Peradilan sipil kita mempunyai dua pengadilan untuk menyelesaikan perselisihan antar masyarakat atau privat. Dalam hal perceraian, atau hukum keluarga, pengadilan dipisahkan menjadi dua, yakni Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama.

Pengadilan Negeri mempunyai kewenangan untuk memeriksa perselisihan privat bagi yang tidak beragama Islam. Sedangkan bagi warga negara yang beragama Islam, kewenangan tersebut ada pada Pengadilan Agama.

Dalam hal perceraian, untuk yang beragama selain Islam, tunduk pada aturan yang telah dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, tentang Perkawinan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan UU.No.1/1974. Sedangkan untuk yang beragama Islam, selain merujuk pada undang-undang tersebut, juga tunduk pada Kompilasi Hukum Islam.

Alasan Perceraian

Baca juga: PSSI akan Bantu Persipura Berlaga di AFC

Lantas apa saja alasan yang dapat diterima oleh pengadilan untuk memutus sebuah pernikahan? Untuk melakukan perceraian, harus ada cukup alasan bahwa antara suami dan istri tidak akan hidup rukun sebagai sebuah keluarga.

Dalam penjelasan pasal 39 UU.No.1/1974 jo. Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975, dijelaskan bahwa alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk perceraian adalah :

1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf a UU.No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (a) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam).
2. Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 ( dua ) tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lain dan tanpa ada alasan yang sah atau karena ada hal yang lain di luar kemampuannya ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf b UU.No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (b) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (b) Kompilasi Hukum Islam).
3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 ( lima ) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf c UU.No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (c) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (c) Kompilasi Hukum Islam).
4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap pihak yang lain ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf d UU.No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (d) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (d) Kompilasi Hukum Islam).
5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kwajibannya sebagai suami/istri ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf e UU.No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (e) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (e) Kompilasi Hukum Islam).
6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf f No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (f) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam).

Alasan-alasan tersebut diatas masih ditambah dua lagi sebagaimana tercantum dalam pasal 116 kompilasi hukum islam yaitu :

1. Suami melanggar taklik talak (pasal 116 huruf (g) Kompilasi Hukum Islam).
2. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga (pasal 116 huruf (h) Kompilasi Hukum Islam).