Darimana Senjata Milik KKB Berasal?
Beritapapua.id - Darimana Senjata Milik KKB Berasal? - Tribun

Darimana Senjata Milik KKB Berasal? – Kelakuan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) semakin menjadi. Terakhir, KKB melakukan penyerangan terhadap kendaraan logistik TNI di Kabupaten pegunungan Bintang pada Selasa (20/10). Tindakan brutal KKB ini, menyisakan pertanyaan buat kita, yakni dari mana KKB memperoleh senjata untuk menyerang aparat kita?

Hal ini terjawab setelah tim gabungan TNI dan Polri menangkap seorang oknum polisi (Bripka JH) di bandara Nabire, Kamis (22/10). Bripka JH tertangkap tangan hendak menjual senjata api ke KKB.

Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw membenarkan bahwa tim gabungan TNI-Polri menggagalkan jual-beli senapan di Nabire.

“Benar, tim gabungan berhasil menggagalkan jual-beli senjata api yang melibatkan anggota Brimob, yakni Bripka JH,” kata Irjen Paulus di Jayapura, Papua, Jumat (23/10).

Polisi pun saat ini tengah mengembangkan penyelidikan. Berdasarkan pengakuan rekannya yang merupakan perantara, Bripka JH sudah melakukan enam kali aktivitas jual beli senjata api dengan KKB.

 Baca Juga: Pemkot Sorong Berlakukan Peraturan Penanganan Covid-19

Oknum TNI Juga Terlibat

Tidak hanya oknum dari kepolisian, oknum aparat TNI juga terlibat dalam kasus jual beli senjata api illegal kepada KKB. Pada Maret silam, seorang anggota TNI tertangkap karena terbukti memasok senjata api dan amunisinya untuk KKB melalui Moses Gwijangge. Anggota TNI tersebut bernama Pratu Demisla Arista Tefbana.

Dalam sidang yang dilakukan oleh Pengadilan Militer III-19 Mahmil Jayapura pada Kamis (12/3), Pratu Demisla divonis hukuman penjara seumur hidup dan diberhentikan dari dinas militer TNI AD. Kepada Moses itu, Demisla menjual satu pucuk senjata api dan 1.300 butir amunisi. Adapun harga amunisi itu dijual Rp 100.000 per butir, sedangkan senpi dijual Rp 50 juta.

Hal yang sama juga terjadi pada Februari silam. Saat itu, tiga oknum TNI AD ditangkap serta dihukum karena menjual 13,.431 butir amunisi kepada KKB. Mereka adalah Sersan Dua Wahyu Insyafiadi, Prajurit Satu Okto Maure, dan Prajurit Satu Elias K Waromi.

Pengadilan Militer TNI kemudian menjatuhkan hukuman kepada tiga anggota TNI tersebut. Sersan Dua Wahyu Insyafiadi divonis hukuman seumur hidup, Prajurit Satu Okto Maure divonis 15 tahun penjara, dan Prajurit Satu Elias K Waromi divonis hukuman 2,5 tahun penjara dipotong masa tahanan.