Daring Terkendala, Siswa Baru SMA Kristen Koinonia Sekolah Luring
beritapapua.id - siswa baru SMA Kristen Koinonia ikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (08/07/2021). (foto : jubi)

Para murid baru SMA Kristen Koinonia Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah mereka secara bertatap muka pada Kamis (8/7/2021). Pengenalan lingkungan sekolah dilakukan secara bertatap muka karena banyak siswa baru yang tidak sarana untuk mengikuti pembelajaran daring.

“Anak-anak itu banyak dari pedalaman, sehingga tidak memiliki sarana untuk mengikuti pembelajaran secara daring. Mereka dari pedalaman, datang ke sekolah dengan keterbatasan biaya,” kata Kepala SMA Kristen Koinonia Sentani, Cisilia Irna Wijayanti di Sentani, Kamis.

Irna menjelaskan pengenalan lingkungan sekolah itu menerapkan protokol kesehatan COVID-19.

”Kami sediakan keran air dan sabun di beberapa tempat yang bisa dijangkau, dan limbahnya langsung mengalir ke parit. Sebelum masuk, anak-anak berbaris dan wajib cuci tangan, mengenakan masker. Kami juga menyediakan masker untuk murib yang tidak membawa,” ucap Irna.

Penjelasan Tata Tertib Sekolah Terhadap Siswa Baru SMA Kristen Koinonia

Dalam pengenalan lingkungan sekolah itu, para murid baru berkenalan dengan para guru. Mereka juga menerima penjelasan tentang tata tertib sekolah.

“Kemarin kami mau lakukan Kegiatan Belajar Mengajar atau KBM tatap muka dengan membagi gilir masuk sekolah, pagi dan sore. Tiap tingkatan nanti masuk sekali dalam seminggu, ambil tugas, lalu belajar di rumah. Pekan berikutnya, mengumpulkan tugas sekaligus mengambil tugas berikutnya,” kata Irna.

Baca Juga : Seila Waimuri, Perempuan Tangguh Papua Di Cabor Angkat Berat

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan SMA Kristen Koinonia Sentani, Damaris Datu menjelaskan ada sekitar 300 formulir pendaftaran ulang yang telah diambil para calon murid sekolah itu. Akan tetapi, pengenalan lingkungan sekolah pada Kamis diikuti 115 siswa saja.

Damaris Datu menjelaskan banyak murid baru berasal dari wilayah pegunungan tengah Papua. “Selain dari Kabupaten Jayapura, ada juga murid baru dari daerah pegunungan. Mereka mengikuti jejak kakak mereka. Karena kakaknya sekolah di sini, adiknya juga begitu,” ujarnya.