Daun Sukun, Peluruh Wabah Kearifan Teluk Bintuni
beritapapua.id - Daun sukun yang direbus, kearifan lokal masyarakat Teluk Bintuni, yang dipercaya dapat menangkal wabah yang terjadi. Foto: Yohanes Akwan.

Daun Sukun, Peluruh Wabah Kearifan Teluk Bintuni – Indonesia merupakan khazanah tradisi yang sarat akan kearifan lokal, serta adat istiadat yang menjadi ciri dari kehidupan nusantara. Ribuan suku dengan berbagai warna dan corak budayanya merupakan bentangan jutaan makna pada setiap kearifan serta tradisinya.

Salah satunya adalah Teluk Bintuni, Papua Barat, dengan tradisi serta budaya khas suku Melanesia, mempunyai kearifannya tersendiri. Pengetahuan yang timbul dari pengalaman dan peristiwa yang terjadi dalam keseharian ini, akhirnya menjadi satu identitas tersendiri yang mengadaptasi budaya maupun tradisi yang sudah berjalan.

Dengan potensi alam yang begitu besar, dan hutan mangrove yang sebegitu luasnya, hampir semua komponennya bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah daun sukun hutan.

Daun yang gampang sekali ditemui ini, dipercaya sebagai obat tradisional yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Ada yang unik dari tata penggunaan daun sukun ini. Bukan sebagai bahan herbal untuk diminum, layaknya obat tradisional yang kerap kita temui di Indonesia. Daun sukun ini direbus dengan beberapa rempah yang lain seperti cengkeh, kemudian dihirup uapnya dan dijadikan air untuk mandi.

Tradisi ini telah berjalan dari generasi ke generasi, dan dipercaya sebagai bentuk pengobatan paling mujarab. Dengan do’a maupun ritual yang dipercaya, khasiat dari daun sukun yang direbus dapat membersihkan tubuh dari wabah maupun penyakit.

Baca Juga: Pernyataan Kontroversial, Komisioner KPAI Diberhentikan Jokowi

Kekuatan Pikiran Menjadi Kunci Pengobatan Tradisional?

Seperti halnya dengan berbagai kearifan lokal yang lain di Indonesia, khasiat medis dari berbagai tanaman yang dipercaya sebagai obat harus ditelusuri lebih lanjut. Kandungan maupun zat yang terkandung di dalam jenis tanaman membutuhkan jurnal untuk diketahui sejauh mana khasiatnya.

Namun, munculnya kepercayaan mengenai berbagai ritual yang diadaptasi sebagai pengobatan tradisional ini tentu merupakan hasil dari sebuah pengalaman masyarakat. Fenomena atau peristiwa di masa lampau merupakan kunci munculnya sebuah tradisi sebagai kearifan.

Sugesti atau kekuatan pikiran bisa jadi memainkan peranan yang sangat penting pada tahapan ini. Menurut Betsyeba Irene S Psi, ilmuwan psikologi, hubungan antara fisik dan mental itu merupakan hubungan yang respirokal, pengulangan ketergantungan antara fisik dan mental mempengaruhi tingkat kesembuhan seseorang yang sakit.

Di dalam dunia psikologi hal ini disebut sebagai Placebo Effect. Menghubungkan kaitan antara pikiran dan tubuh, dengan mengurangi tindakan pengobatan kimiawi kepada pasien atau seseorang.

Apa itu Placebo Effect?

“Placebo effect atau keyakinan seseorang/pasien adalah efek dari sebuah pengobatan atau tindakan tanpa adanya aktivitas fisik yg diberikan langsung pd individu, bertujuan untuk mengontrol efek dari pengharapan. Mengacu pada fakta bahwa keyakinan akan efektivitas dari suatu pengobatan atau tindakan akan dapat membangkitkan harapan yang membantu mereka menggerakkan diri mereka sendiri, untuk menyelesaikan permasalahan tanpa melihat apakah substansi yang mereka terima adalah aktif/tidak aktif secara kimiawi,” ujar Irene mengutip hasil risetnya.

Hal ini telah ditulis dan diterbitkan pada jurnal-jurnal psikologi juga telah menjadi bahan riset oleh berbagai tim maupun individu sebagai bahan keilmuan lanjutan psikologi.

“Dr. Herbert benson dari Harvard Medical School; remembered wellness yaitu keyakinan-keyakinan dan harapan pasien, keyakinan dan harapan dokter dan keyakinan dan harapan yang tumbuh dari hubungan pasien-dokter” tandasnya.

Mengandalkan kekuatan pikiran mungkin terdengar klise, tapi pada kenyatannya mengombinasikan kekuatan pikiran dengan pengobatan tradisional telah lama dipraktekkan di dunia timur.

Tapi bagaimana dengan sumber senyawa bioaktif yang terkandung di dalam daun sukun? Apakah ada potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat yang bisa dipergunakan secara formal dalam dunia medis?

Manfaat Daun Sukun Menurut Penelitian LIPI

Uji khasiat pernah dilakukan oleh Pusat Penelitian Kimia LIPI bersama pakar peneliti lainnya. Ternyata ditemukan flavanoid dan sitoserol pada ekstrak daun sukun yang bernama Laitn Artocarpus altilis, yang berkhasiat untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Mengutip dari laman lipi.go.id, menurut DR. Tjandrawati M. Ozef dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan, uji khasiat baik secara in vitro ( menggunakan media) maupun in vivo (melibatkan sel hidup) terhadap ekstrak tanaman tersebut, telah menunjukkan hasil sangat baik.

Penelitian terhadap khasiat daun sukun ini telah dilakukan sejak tahun 2004 dan telah lulus uji preklinis. Potensi dari daun sukun untuk dikembangkan sebagai obat sintesis sangat besar.

Wujud Kearifan dalam Psikologi dan Medis

Menghubungkan daun sukun sebagai tanaman atau sumber pengobatan untuk meluruhkan wabah dan penyakit lainnya harus berkaca pada berbagai sumber. Pengalaman suku-suku yang mendiami Teluk Bintuni, Papua Barat, sudah tentu berhubungan dengan kondisi geografis serta penyakit yang biasa dialaminya.

Malaria merupakan salah satu penyakit parasitik yang menjadi wabah dan telah menjadi persoalan klasik di Papua dan Papua Barat. Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur, menurut data Kementerian Kesehatan merupakan wilayah dengan endemis tinggi penyebaran penyakit malaria.

Penyakit yang menjadi permasalahan dari generasi ke generasi inilah yang bisa dikatakan sebagai pemicu munculnya kearifan lokal Teluk Bintuni. Kandungan Flavanoid pada daun sukun, merupakan senyawa yang mampu berfungsi sebagai efek anti malaria (red: Kajian Universitas Padjadjaran pada jurnal yang diterbitkan).

Sedangkan khasiat lain dari flavanoid yang berfungsi sebagai antioksidan, alergi, infeksi virus, peradangan serta perbaikan sel rusak bisa menjadi alasan kenapa daun sukun dipilih oleh masyarakat Teluk Bintuni.

Perpaduan efek psikologi dari ritual dalam pengobatan tradisional, serta kandungan senyawa bioaktif pada daun sukun, menjadi kunci dari kearifan ini. Alam telah menyediakan berbagai senyawa dan komponen bagi manusia dengan manfaat yang spesifik. Tradisi dan budaya mengajarkan bagaimana hubungan antara manusia dan alam mampu mendatangkan keseimbangan dan manfaat satu dengan yang lainnya.