Dawai Literasi Christina Pretty untuk Papua Barat
beritapapua.id - Dawai Literasi Christina Pretty untuk Papua Barat - Rahmat Rahman Patty

“Keresahan Pretty Christina Sumampouw akan minat baca masyarakat Papua Barat melatarbelakangi terbentuknya 6 taman baca di Papua.”

Christina Pretty, atau Pretty Christina Sumampow, menjadi salah satu tokoh penggagas rumah baca di Papua Barat. Geliatnya dalam memajukan literasi tanah kelahirannya sudah muncul sejak ia masih menimba ilmu di Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Viktory Sorong, Papua Barat. Selama sekitar 7 tahun menempuh jalan terjal membangun mercusuar literasi bagi anak-anak Papua Barat, kini ia berhasil mendirikan 6 taman baca di Papua Barat.

Taman Baca Suprau yang terletak di Suprau, Distrik Makbon, Sorong, merupakan taman baca pertama besutan dara berumur 27 tahun itu. Tak hanya Suprau, Taman Baca Kuadas, Rubah Dua Pohon, Akasia, Klayn, dan Moi lahir sebagai tanda keseriusannya mewujudkan mimpinya. Keinginannya meningkatkan minat baca masyarakat tak lepas dari gerakan Komunitas Buku untuk Papua. Komunitas tersebut menjadi salah satu pihak yang membantu Pretty dalam menyediakan buku serta mendistribusikan buku.

“Ini karena tanggung jawab moral dan tanggung jawab kemanusiaan. Rambut saya tidak keriting, tetapi saya lahir di Papua dan saya sangat mencintai Papua,” ungkap Pretty dalam kompas (06/06/2017).

Berawal dari dua orang, Pretty dan Naomi, kini taman baca yang ia garap menjadi ladang relawan yang ingin turut serta dalam memajukan literasi anak-anak Papua Barat.

Baca Juga: Charles Toto, Kuliner Papua untuk Dunia

Dianggap Gila Demi Meraih Mimpi

Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) yang dirilis oleh Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebijakan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa Provinsi Papua Barat masih memiliki aktivitas literasi membaca rendah. Tak ayal, Pretty begitu trengginas dalam menggapai asanya. Mulai dari pulang larut malam, jadwal yang sangat padat, kecelakaan dalam bertugas, ditentang oleh keluarganya, hingga dianggap gila menjadi bumbu dalam perjuangannya.

“Kedua orangtua saya pernah bertengkar gara-gara saya. Adik saya sampai bilang saya sudah gila. Memang saya sadari kalau sikap keras ayah saya itu karena mereka sayang kepada saya dan mereka khawatir karena saya anak perempuan,” jelasnya, melansir dari kompas.com.

Dalam satu waktu, Pretty pernah menuturkan bahwa Ayahnya berniat untuk membakar sebagian buku yang ada di rumahnya apabila Pretty masih bersikeras berkemcimpung dalam dunianya. Orang tuanya meminta ia untuk berhenti. Tak hanya orang tuanya, adiknya pun menyebut Pretty gila. Di bawah tekanan keluarga itu, Pretty yang sempat goyah pun tak patah semangat. Ia terus meyakinkan keluarganya hingga kini ia mampu membangun 6 taman baca di Sorong.

Tak hanya soal baca, Pretty juga menjadikan taman bacanya sebagai ruang edukasi dan motivasi. Seminar hingga festival diadakan demi menarik minat literasi masyarakat. Itu yang membuat keluarga Pretty pada akhirnya mendukung usahanya.