Demi Akses Internet, Puluhan Orang Berkumpul di Depan SMAK Seminari
beritapapua.id - Puluhan Orang berjejer jejer nikmati akses intertet di depan Rs. Dian harapan (foto : jubi)

Demi Akses Internet setiap pukul 18.00 WP (Waktu Papua), puluhan orang dengan kendaran roda dua dan roda empat berjejer memenuhi sisi kanan-kiri ruas jalan maupun toko-toko di depan SMAK Seminari St. Fransiskus Asisi Waena hingga depan PLTD Waena.

Lokasi tersebut menjadi salah satu tempat pilihan bagi orang-orang untuk berkumpul karena masih memiliki jaringan internet 4G, walaupun belum lancar. Menurut informasi gangguan ini terjadi sejak akhir April 2021 jaringan internet di Kota Jayapura menjadi bermasalah.

Semakin larut malam, tempat tersebut makin ramai didatangi sehingga terlihat seolah pasar malam.

Berbagai Kalangan Berkumpul Hanya Untuk Mendapatkan Akses Internet

Ada dari kalangan pelajar, mahasiswa, wartawan, atlet, pekerja kantor hingga para pedagang. Yang sekadar berkumpul bermain game, mendownload lagu, mengirimkan tugas kampus hingga bermain media sosial dan lainnya.

Fredik Mangga sudah dua hari mangkal di depan Rumah Sakit Dian Harapan. Awalnya ia hendak melakukan perjalanan ke Arso pada 10 Mei 2021 dari arah Perumnas 3 Waena dan sesampainya di depan PLTD Waena, ada pesan yang masuk di media sosialnya.

“Kalau saya pas pagi lewat mau ke Arso dari Perumnas 3 terus sampai di PLTD sini. Saya pegang handphone lihat ada jaringan internet muncul 4G, ada pesan yang masuk di whatsapp,” ujarnya.

Baca Juga : PLN Targetkan Awal Juli 3 Daerah Bisa Nikmati Listrik Selama 24 Jam

Setelah balik dari Arso melihat banyak orang yang berkumpul di depan Rumah Sakit Dian Harapan, ia lalu berhenti dan bertanya kepada orang-orang yang berkumpul disitu.

“Jadi pas kemarin balik dari Arso, mau lewat ke Perumnas 3 lihat ramai banyak orang. Saya berhenti terus tanya orang ada cara kh? Dong bilang ada jaringan jadi ramai di sini,” katanya.

Mahasiswa semester 8 Universitas Ottow dan Geisler Jayapura tersebut mulai mangkal pada pukul 8 malam dan akan pulang ketika batarei handphone habis.

Sekadar mendownload lagu-lagu karoke dan bermain Facebook dan Whatsapp. Ia juga menggunakan untuk mengerjakan dan mengirimkan tugas kampus.

“Mau main sampai batarei habis baru pulang, biasa download lagu-lagu koroke, buka Youtube, cek-cek pesan di medsos. Yang penting habis itu ubah tugas ke PDF lalu kirim ke dosen di Wamena,” ujarnya.

Perkuliahan Dihentikan Saat Internet Mengalami Gangguan

Semenjak internet mengalami gangguan perkuliahan di kampusnya secara daring otomatis dihentikan.

Tia dan mahasiswa lainnya juga mengalami kesulitan dalam hal mengerjakan tugas. Mereka lalu mencari referensi melalui buku-buku di perpusatakan kampus. Selain itu ia juga harus mengeluarkan tambahan biaya untuk membeli pulsa.

“Sangat sulit karena kita ini kalau ada tugas dari kampus, terus kita mau telepon kalau tidak ada pulsa, biasa kan ada internet tidak susah. Tapi sekarang saya sudah habiskan Rp100 ribu dalam dua minggu, biasanya satu bulan cuma Rp100 ribu,” katanya.

Mangga mengetahui jaringan internet mulai mengalami gangguan pada 30 April 2021 ketika sedang berada di Doyo, Sentani. Saat itu setelah habis menelepon ia lalu mau membuka media sosial tetapi tidak bisa diakses.

“Saya tau jaringan mati hari Jumat-Minggu lalu pas lagi di Doya Sentani. Habis telepon mau buka WA sudah tidak bisa. Sempat pas pulang ban bocor singga tambah di bengkel, saya tanya, mas bengkel bilang jaringan semua hilang,” ujarnya.

Jika Mangga berburu jaringan internet di depan Rumah Sakit Dian Harapan, Revan dan Eben memilih mangkal di depan PLTD Waena. Mereka berdua mengetahui adanya jaringan internet di tempat tersebut dari sesama teman asrama.