Demi Evakuasi Orang Sakit, Warga Kampung Miami Jayawijaya Sewa Helikopter
beritapapua.id - Ilustrasi Helikopter. (foto: Antara)

Masyarakat Kampung Miami di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, harus menyewa helikopter untuk evakuasi masyakarat yang sakit. Hal ini terjadi lantaran tidak ada akses jalan lewat darat yang bisa kendaraan lalui, baik mobil maupun sepeda motor.

Kepala Puskesmas Itlay Hisage Jois Halitopo di Wamena, Senin, 8 Oktober 2021 membenarkan hal tersebut.

Ia mengatakan pihaknya kesulitan menangani pasien kritis yang butuh rujukan sebab akses ke sana hanya bisa melalui jalan kaki berjam-jam atau menggunakan helikopter yang biayanya tidak murah bagi masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani kecil.

“Kalau ada yang sakit di sana, itu teman-teman kader kesehatan hubungi kami, kami hubungi helikopter untuk jemput. Masyarakat yang tanggung pembiayaan jadi kami tidak tahu pasti biayanya,” kata Jois di Kota Wamena, Senin (8/11/2021).

Kasus terakhir yang sulit ditangani di sana dan terpaksa harus dibawa dengan helikopter ke Pusat Ibu Kota Jayawijaya di Wamena adalah seorang ibu yang hendak melahirkan. Namun nyawa pasien tidak tertolong sedangkan bayinya selamat.

“Dari masyarakat lapor ke kami, kami minta helikopter, diantar pas naik, ibunya tidak tertolong. Bayinya yang tertolong, tetapi sementara kami titip di Distrik Ibele,” katanya.

Mempekerjakan Kader-kader Kesehatan

Untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan, puskesmas Miami, Jayawijaya mempekerjakan kader-kader kesehatan. Kader ini biasanya datang ke pusat distrik dengan berjalan kaki untuk membawa obat ke kampung itu.

Agar pelayanan kesehatan di Miami, Jayawijaya tetap berjalan dengan maksimal, puskesmas akhirnya mempekerjakan kader-kader kesehatan. Kader-kader ini biasanya datang ke pusat distrik dengan berjalan kaki untuk membawa obat ke kampung itu.

Baca Juga: Kontingen NPC Papua Kumpulkan 33 Medali Emas di Ajang Peparnas XVI

Selanjutnya petugas medis dari puskesmas menyusul untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Biasa kita mulai jalan kaki dari jam 5 pagi. Sampai di sana pukul 10 siang. Itu kita capek di jalan,” katanya.

Ia juga berharap bahwa dalam waktu dekat pemerintah bisa membuka akses jalan menuju wilayah tersebut. Hal ini agar warga tidak kesulitan dalam melakukan aktivitas dengan memanfaatkan akses jalur darat.

“Kami harapkan pemerintah membuka akses jalan sehingga pembangunan bisa masuk ke sana agar kami juga bisa masuk. Kalau 2-3 kilometer dibuka itu sudah cukup mudah untuk kami,” katanya.