Jerman Bangun Bandara
Wulf Schiefenhovel

Orang Jerman Bangun Bandara di Papua – Tahukah Anda ada sebuah landasan terbang kecil di pedalaman Papua? Landasan terbang Eipomek, Pegunungan Bintang, merupakan salah satu bandara hasil swasembada masyarakat. Menggunakan peralatan sederhana, warga Eipo membangun landasan terbang.

Warga Eipo tak sendirian kala membangun landasan terbang itu. Ada alasan khusus mengapa mereka membangun bandara kecil itu. Salah satunya untuk keperluan logistik dan penelitian seorang peneliti asal Jerman.

Peneliti Jerman Bangun Bandara Eipomek

Ia adalah Wulf Schiefenhovel, seorang profesor antropologi medis dari Max Planck Institut Jerman. Pada tahun 1974, ia pergi ke Papua untuk melakukan peneliti. Namun, Wulf sadar bahwa kendala terbesarnya kala itu adalah akses.

Kemudian, ia mencetuskan sebuah ide untuk membangun sebuah landasan pacu untuk pesawat perintis. Selanjutnya, bersama seorang suku Dani bernama Tayiniyak dan sejumlah orang Eipo, Wulf membangun lapangan terbang.

Menariknya, alat yang mereka gunakan untuk membuat bandara merupakan peralatan sederhana. Berbekal linggis, sekop, dan semangat manusia, akhirnya mereka berhasil membangun lapangan terbang. Juli 1975, bandara itu resmi berdiri.

“Pada Juli 1975, lapangan terbang hasil kerja kami, pertama kali didarati pesawat kecil. Saat itu kami sangat senang dapat berfoto dengan orang Eipo, mereka obyek foto yang bagus, namun di era digital ini, kebalikannya, justru kami orang kulit putih yang jadi pusat perhatian, dan mereka jadikan obyek foto,” ungkap Wulf, mengutip detik, (14/03/2021).

Wulf menamai desa tersebut dengan nama Eipomek. Sekaligus menyebut bandara tersebut dengan nama demikian.

Bandara Membuka Pintu Peradaban

Baca juga: Apa Hukum Mengusap Wajah Setelah Berdoa?

Ada satu ungkapan menarik yang Wulf sampaikan. Wulf menyebut orang Eipo merupakan pintu yang membawa masyarakat dari zaman prasejarah ke dalam zaman digital. Menurutnya, sebelum bandara itu hadir, masyarakat Eipo hidup sederhana.

Misalnya, dahulu, orang Eipo tidak mengenal konsep menyimpan makanan. Mereka memakan makanan yang mereka peroleh hari itu juga. Pisang dan ubi biasa habis dalam beberapa hari saja. Hanya sebagian makanan yang mereka simpan.

Adapun makanan yang mereka simpan biasanya daging atau biji pandan. Kuskus menjadi salah satu sumber daging mereka. Setelah memburu kuskus, mereka membakar daging tersebut dan membungkusnya dengan daun pisang untuk beberapa minggu ke depan.

Biasanya, daging kuskus ini akan mereka gunakan untuk acara pernikahan. Menurut Hari Suroto, peneliti Balai Arkeologi Papua, pihak laki-laki harus memberi kuskus sebagai mahar bagi perempuan.

Ada pula biji buah pandanus brosimos yang mereka simpan sebagai cadangan makanan. Masyarakat lokal biasa menyebut tanaman ini dengan sebutan win. Tumbuhan ini mengandung lemak dan protein yang tinggi.

Melihat hal tersebut, warga Eipo sangat membutuhkan makanan yang mengandung protein dan lemak. Bagi mereka, makanan tersebut begitu langka. Namun, tidak lagi setelah bandara Eipomek hadir.

Warga pegunungan sulit mendapatkan ikan sebagai sumber protein. Namun, dengan adanya bandara, pesawat dapat membawa ikan air tawar yang biasanya datang dari Sentani.