Di Balik Bintang Kejora dan Gus Dur

Bendera Bintang Kejora yang kini menjadi simbol terlarang di Republik Indonesia, merupakan entitas yang tak lepas dari Orang Papua. Aksen tujuh garis putih biru dengan bintang di ujungnya mempunyai filosofi tersendiri.

Clemens Runaweri, mantan politisi Papua Barat, seperti yang kami lansir dari Tirto ID, mengatakan penyebutan yang pas untuk Bendera Bintang Kejora adalah Bintang Fajar atau Bintang pagi. “Bintang Pagi adalah bintang yang muncul di langit pada subuh sebelum matahari terbit. Bintang Pagi ini dijadikan para nelayan sebagai penuntun. Sebagai penunjuk arah ketika mereka di tengah lautan tanpa kompas navigasi. Bintang Fajar adalah harapan bagi nelayan yang sedang menanti datangnya pagi,” tuturnya.

Mengibarkan Bintang Fajar merupakan simbol dari keinginan dan harapan orang Papua Barat untuk bisa menjadi bangsa yang merdeka. Bagi beberapa pihak, bergabungnya Papua dengan Indonesia, merupakan hasil intrik politik yang dilakukan melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada tahun 1969.

Sebenarnya, gerakan pengibaran bendera Bintang Fajar setiap tanggal 1 Desember, merupakan simbol atas penegasan kemerdekaan Papua dari Belanda. Bukan hari lahirnya OPM. Hal ini merupakan kekeliruan persepsi yang selama ini dipercayai oleh kebanyakan orang Indonesia.

Pengibaran bendera Bintang Fajar, telah menjadi polemik selama bertahun-tahun. Keinginan orang Papua untuk memerdekakan diri dari Indonesia, paska Pepera 1969, akhir-akhir ini semakin menguat pergerakannya. Inisiasi dukungan berdasarkan kesamaan ras Melanesia dari negara-negara pasifik seperti Vanuatu, dianggap sebagai angin segar bagi perjuangan Papua Barat.

Bintang Kejora Sempat Diizinkan Berkibar

Baca juga: Ada 4 Varian Virus Corona Baru, Berikut Penjelasannya

Tapi tak selalu Bintang Kejora atau Bintang Fajar ini menjadi simbol terlarang di Indonesia. Paling tidak, pada zaman Kepresidenan Alm. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Bintang Kejora sempat diizinkan berkibar.

Gus Dur merupakan Presiden Indonesia yang berhasil mengambil hati mayoritas orang Papua. Kedekatan beliau disimbolkan secara kultural. Kebijakan yang diambil dari forum yang digelar oleh beliau di Jayapura pada tahun 1999, menjadi landasan mengapa beliau sangat disayangi oleh orang Papua.

Gus Dur menganggap Bintang Kejora atau Bintang Fajar sebagai umbul-umbul, simbol budaya Papua. Selama kepemimpinannya, Gus Dur memperbolehkan Pengibaran Bintang Kejora, hanya jika disandingkan dengan Bendera Merah Putih, dan harus didaftarkan lokasi pengibarannya.

Keputusan ini diambil setelah dilakukannya Forum yang dihadiri oleh seluruh perwakilan elemen masyarakat. Tak hanya pengibaran Bendera Bintang Kejora, namun Gus Dur juga mengembalikan nama Papua yang selama rezim Orde Baru menjadi Irian Jaya.

https://tirto.id/sejarah-gus-dur-yang-membolehkan-bintang-kejora-berkibar-di-papua-ehpc