Didi Kempot Pahlawan Patah Hati Indonesia
beritapapua.id - Didi Kempot Pahlawan Patah Hati Indonesia - AyoSemarang

Indonesia baru saja kehilangan The Godfather of Broken Heart (bapak patah hati), yakni Didi Kempot. Lagu-lagu yang beliau lantunkan kerap mengiris-iris hati pendengarnya. Tak ayal sobat ambyar–sebutan penggemar lagu Didi Kempot–tenggelam dalam nuansa nostalgia cinta mereka yang sendu.

Namun, sebelum nama Didi Kempot tenar kembali di abad 21, Indonesia memiliki seorang penggawa yang disebut sebagai pahlawan patah hati. Rachmat Kartolo, pria kelahiran 13 Maret 1938 merupakan sosok itu. Ia adalah anak dari pasangan bintang film kondang pada zamannya, yakni Kartolo dan Rukiah.

Berbeda dengan orang tuanya yang bergelut di dunia seni perfilman, Rachmat Kartolo justru menunjukkan bakatnya di seni musik. Pada tahun 1940-an, ia bersama saudaranya, Iman dan Jusuf Kartolo, membentuk sebuah grup musik kecil.

“Rachmat mulai bermain musik sebagai penabuh bongo dalam band yang dibina oleh Adikarso, dan muncul dalam banyak kesempatan di Wisma Nusantara (Harmoni),” sebut Ensiklopedi Musik Volume 1, terbitan 1992, dikutip dari historia.id.

Pada tahun 1960-an, lagu Rachmat Kartolo yang berjudul Patah Hati naik sebagai ikon lagu pop. Ini menarik lantaran pada periode tersebut, Indonesia tengah mencari wajah musik pop-nya. Presiden Soekarno mengkritik habis-habisan lagu-lagu cengeng yang kontrarevolusi. Ia menyebutnya sebagai musik ngak-ngik-ngok. Tak hanya itu, orang nomor satu Indonesia itu juga melarang musik pop berbahasa Inggris yang ia cap sebagai ‘kebarat-baratan’.

Lantas, bagaimana kini Indonesia begitu lekat dengan lagu berlatar kisah cinta yang sendu?

Baca Juga: Elegi Bineka Tunggal Ika Pasca Pesta Demokrasi

Lambang Pop Indonesia: Menangis Meratap Karena Cinta yang Bubar

Remu Silado, seorang sastrawan, dalam tulisannya mengatakan bahwa lagu-lagu Rachmat Kartolo menandai arus komersial baru dalam dunia musik Indonesia. Ia menjadi lambang ciri khas lagu pop Indonesia yang ia sebut sebagai ‘menangis meratap karena cinta yang bubar’.

“Piringan hitamnya tersebar luas. Dan Rachmat Kartolo dielu-elukan sebagai pahlawan, justru karena kata-kata yang lembek lagi tak senonoh dari lagunya Patah Hati,” tulis Remy dalam tulisannya “Musik Pop Indonesia” di Prisma, 6 Juni 1977.

Lagu bernuansa country itu sempat merajai pasar musik Indonesia pada tahun 1963 dan 20 tahun setelahnya. Selain lagu berjudul ‘Patah Hati’, lagu ‘Kunanti Jawabanmu’ dan ‘Pusara Cinta’ juga populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hanya Koes Plus dengan nada riangnya yang mampu menandingi sang pahlawan patah hati.

Pada tahun 1964, Rachmat Kartolo masuk ke dunia perfilman setelah sutradara Wim Umboh tertarik pada lagu ‘Patah Hati’. Kariernya di dunia perfilman tak kalah memukau. Ia beberapa kali menyutradarai beberapa film hingga tahun 1990. Film tersebut antara lain Bertjinta Dalam Gelap (1971), Masih Adakah Cinta (1980), Jangan Sakiti Hatinya (1980), dan Kau Tercipta Untukku (1980).

Karya terakhir dari sang pahlawan patah hati berjudul Mat Pelor (1990).