Dimensi Lain Perekonomian Masyarakat Transisi Bintuni
Dimensi Lain Perekonomian Masyarakat Transisi Bintuni

Basis perekonomian masyarakat Teluk Bintuni dan Papua Barat secara keseluruhan sangatlah berhubungan dan bertumpu pada tanah. Sebagian besar, kegiatan perekonomian masyarakat Teluk Bintuni meliputi bidang pertanian dan kehutanan. Melalui bentuk-bentuk perekonomian masyarakat di bidang tersebut, masyarakat di wilayah ini dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Tahun 1986 masyarakat yang tinggal di dataran tinggi kemudian mulai berpindah ke daerah pesisir Teluk Bintuni. Kegiatan berladang menjadi kegiatan baru yang mereka jalani setiap minggu bahkan setiap hari. Mulai dari kegiatan untuk membuka lahan, ditanami, kemudian diambil hasilnya. Ladang-ladang tersebut semula adalah hutan yang kemudian disulap oleh kerja keras para laki-laki dengan menggunakan kapak dan parang. Berikutnya, para perempuan dan anak-anak mereka, bertugas membersihkan hutan yang telah dibuka, serta menanam, memelihara, dan memanen hasilnya.

Baca Juga: Teluk Bintuni Kawasan Mangrove Terbesar di Indonesia

Sistem Perekonomian Masyarakat di Bidang Pertanian

Usaha bercocok tanam di Teluk Bintuni masih menggunakan cara menebas dan membakar hutan di suatu tanah datar yang mereka anggap subur. Pola berladang semacam itu dilakukan dengan cara menggarap lahan yang ada di sekitar daerah pemukiman kampung—atau pula ada yang menanam di halaman rumah dengan pekarangan yang berisikan beberapa tanaman pangan—seperti ubi jalar (petatas), singkong (kasbi), talas (keladi), jagung (tramp), disamping pepaya, kacang (kancu), pisang, cabai (rica), melinjo (genemon), dan sayur-mayur lainnya.

Sistem pertanian semacam itu telah menjadi sebentuk pengetahuan lokal (indigenous knowledge) yang ditradisikan sejak mereka masih bermukim di gunung. Seiring relokasi demi relokasi yang dialami sejak tahun 1986 dan 2006. Ladang-ladang itu akan mereka biarkan menjadi hutan kembali setelah satu atau dua kali panen. Jangka waktu produktif suatu lahan tidak tentu. Biasanya, apabila pohon-pohon yang ada dalam suatu lahan hutan tersebut telah mencapai tinggi kurang lebih 10-15 meter, mereka menganggap tanahnya cukup subur untuk diolah lagi.

Selain sebagai sarana ladang berpindah-pindah, pemanfaatan hutan oleh para warga satu wilayah ini juga sebagai areal berburu, tempat penduduk memperoleh sumber protein hewani, yang bisa didapatkan pula dari pasar di kota. Binatang yang banyak mereka buru adalah tikus tanah, rusa, kuskus, dan kangguru pohon, sementara babi hutan dikonsumsi dan dipelihara. Perekonomian masyarakat Teluk Bintuni memang memanfaatkan tanah daerah dengan maksimal untuk mensejahterakan masyarakat disana.