Diskon Adidas Berujung Nestapa Konsumen
beritapapua.id - Tangkap layar dari akun twitter @icantbenice yang mengulas carut marut pada program diskon online shop Adidas yang disinyalir telah merugikan banyak konsumen

Diskon Adidas Berujung Nestapa Konsumen – Pada bulan April 2020 lalu, netizen Indonesia terutama penggila jenama sepatu Adidas dihebohkan dengan program diskon besar-besaran. Program tersebut dihelat oleh online shop resmi Adidas dengan memberikan diskon sebesar 50%, bahkan lebih untuk pembelian di atas satu pasang.

Dengan diskon sebesar itu, pengunjung web membludak. Online shoppers beramai-ramai berburu sepatu kesayangan mereka itu. Dengan uang Rp500 ribu bahkan ada yang bisa mendapatkan dua pasang sepatu. Siapa yang tidak tertarik dengan penawaran dari jenama high-end ini?

Diskon Adidas Berujung Nestapa Konsumen
beritapapua.id – Tangkap layar dari akun @Berburusale pada bulan April 2020 tentang Adidas Big Sale yang menghebohkan online shoppers Indonesia

Saking banyaknya shoppers yang begitu antusias mengikuti program ini, web dari Adidas selama beberapa hari mengalami kendala. Kapasitas pembeli yang tidak ditunjang oleh server serta terlalu banyaknya pengunjung, Adidas bahkan menutup webnya selama beberapa hari.

Baca Juga: Spesies Tumbuhan Baru di Area Kerja PT Freeport Mimika, Papua

Big Sale! Big Problem!

Namun, program diskon besar-besaran yang dihelat oleh Adidas menyimpan sejumlah permasalahan besar. Puluhan konsumen dirugikan dan sampai sekarang klaim pengembalian dana atau refund tidak diproses oleh Adidas.

Hal ini kemudian diungkap oleh Jowy melalui akun twitternya @icantbenice perihal carut marut administrasi Adidas dalam menangani pembelian maupun keluhan konsumen online-nya.

Dalam utasannya, Jowy menceritakan secara runut perihal pembelian yang akhirnya berujung masalah pengembalian dana yang tak kunjung menemui realisasi. Pada tanggal 17 April, Jowy berhasil membeli sepasang sepatu Adidas dan telah dinyatakan berhasil pembelian tersebut.

Diskon Adidas Berujung Nestapa Konsumen
beritapapua.id – Diskon Adidas Berujung Nestapa Konsumen – Tangkap layar akun @icantbenice perihal pembelian serta konfirmasi dari Adidas

Namun pembelian yang telah dinyatakan berhasil itu tidak pernah diproses oleh Adidas. Konsumen pun tidak diberikan follow up sama sekali perihal kegagalan pembelian ini.

Proses transaksi pun dibatalkan oleh Adidas dan menawarkan pengembalian dana dengan mengisi formulir yang kemudian disetujui oleh Jowy. Namun proses ini pun tidak mendapatkan respon yang baik dari Adidas melalui customer servicenya.

Refund yang telah diklaim sejak Mei 2020 hingga saat berita ini diturunkan pada bulan Juni 2020, menemui kendala. Adidas terus berkilah dan tetap tidak melakukan follow up sama sekali ke konsumen.

Adidas Melanggar Prinsip UU Perlindungan Konsumen

Permasalahan yang dialami oleh Jowy yang dapat dilihat secara runut di dalam utasannya, ternyata memakan korban lainnya. Pembelian yang telah dinyatakan berhasil, secara sepihak dibatalkan oleh pihak Adidas dengan kilah kesalahan input.

Hal ini melanggar prinsip tata niaga yang mengatur hubungan antara penjual dan konsumen dan diatur di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Hak konsumen yang diatur pada pasal 4 adalah:

  1. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
  2. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
  3. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
  4. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

Dimana keseluruhan hak konsumen tersebut di atas tidak dipenuhi oleh Adidas.

Selain Hak Konsumen yang dilanggar dan tidak dipenuhi oleh Adidas, promosi yang diadakan juga tidak menemui kaidah kejujuran dalam promosi. Hal ini diatur dalam pasal 9, (1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklan-kan suatu barang dan/atau jasa secara tidak benar, dan/atau seolah-olah: e. barang dan/atau jasa tersebut tersedia.

Permasalahan klasik perihal pengembalian dana kerap kita temui dalam transaksi online. Mungkin saatnya pemerintah membuat sebuah regulasi yang lebih ketat. Hal ini dimaksudkan agar hak-hak konsumen bisa lebih dilindungi.