Dua Sisi Sabar Bersyukur dan Menahan Diri dalam menghadapi musibah
Dua Sisi Sabar Bersyukur dan Menahan Diri

Dua Sisi Sabar, Bersyukur dan Menahan Diri – Bayangkan, Anda sedang tertimpa musibah berupa bisnis atau pekerjaan Anda hancur. Belum selesai masalah itu, Anda terjangkit penyakit yang mengharuskan Anda istirahat. Apa yang akan Anda lakukan?

Tak sedikit orang yang mengeluh atas musibah yang menimpa mereka. Mulai dari mempertanyakan mengapa musibah datang bertubi-tubi, hingga menyalahkan keadaan. Jangankan untuk bersyukur, bersabar pun sulit.

Padahal, sebuah musibah dan ujian memiliki hikmah padanya. Mari renungkan hadis dari Mush’ab Bin Sa’id. Ketika ia bertanya soal siapa orang yang mendapatkan ujian terberat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”

Hadis tersebut menjelaskan salah satu keutamaan musibah, yakni penghapusan dosa. Bahwa setiap ujian yang Allah datangkan kepada hamba-Nya selalu memiliki kebaikan. Namun, kebaikan itu tidak akan hadir tanpa sebaran pada hamba-Nya.

Dua Sisi Sabar, Bersyukur Termasuk dalam Sabar

Baca juga: Mengapa di Indonesia Tidak Menggunakan Juri di Pengadilan?

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu terkenal dengan sebuah kata mutiara perihal sabar. Ia berkata,

“Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah.”

Dari kutipan tersebut kita belajar bahwa sabar mencakup banyak hal, termasuk bersyukur. Lantas, apa itu sabar dalam islam?

Mengutip dari Abu Ismail al Harawi dalam Kitab Manazil As Sairin, sabar adalah menahan diri. Boleh jadi menahan dari hal yang tidak disenangi maupun disenangi. Menahan menahan lisan dari mengeluh dan berkata tidak baik.

Artinya, sabar tak melulu soal musibah. Sabar juga dapat berbentuk ketakwaan kepada Allah ta’ala baik dalam menjalankan ibadah atau menjauhi larangannya. Misal, sabar ketika menuntut ilmu agama, sabar saat bekerja demi mencari nafkah, atau sabar dalam beribadah.

Bersyukur juga merupakan bentuk sabar sebagaimana dalam kutipan Ibnu Mas’ud. Mari renungkan firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 34,

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

Bahwa apa yang Allah datangkan kepada hamba-Nya selalu memiliki hal baik. Termasuk cobaan dan ujian yang datang. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 216,

وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Atas hal tersebut, bersyukur pun termasuk dalam bentuk sabar.

Kisah Bersyukur Saat Musibah

Kita dapat belajar dari kisah Abu Qilabah soal bersyukur, sabar dan ikhlas. Kisah ini berasal dari Ibnu Hibban dalam kitab ats-Tsiqat, kemudian Abdullah bin Muhammad meriwayatkan kisah tersebut. Kala itu, Abdullah bin Muhammad bertemu seorang lelaki yang tinggal dalam gubuk kecil di daerah perbatasan, wilayah Arish di negeri Mesir.

Yang tinggal pada gubuk itu bukanlah biasa. Laki-laki itu adalah Abu Qilabah. Dia merupakan orang yang sangat miskin dengan kaki dan tangan yang bengkak, telinga yang sulit mendengar dan mata yang buta. Namun, lisannya masih berdzikir kepada Allah.

Lantas, Abdullah bin Muhammad bertanya kepadanya tentang nikmat apa yang masih lelaki itu syukuri. Lantas Abu Qilabah menjawab,

“Wahai saudara, diamlah. Demi Allah, seandainya Allah datangkan lautan, niscaya laut tersebut akan menenggelamkanku atau gunung api yang pasti aku akan terbakar atau dijatuhkan langit kepadaku yang pasti akan meremukkanku. Aku tidak akan mengatakan apapun kecuali rasa syukur.”

Kemudian Abu Qilabah melanjutkan,

“Tidakkah engkau melihat Dia telah menganugerahkan aku lisan yang senantiasa berdzikir dan bersyukur. Di samping itu, aku juga memiliki anak yang waktu salat ia selalu menuntunku untuk ke masjid dan ia pula yang menyuapiku.”

Abu Qilabah adalah lelaki yang luar biasa sabar. Ia sabar menghadapi penyakitnya, menghadapi kefakiran, bahkan ketika ia tahu anaknya meninggal. Bagaimana bisa ia bersabar dengan kondisi tersebut?

Jawabannya adalah bahwa sabar adalah kunci surga. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Furqan ayat 75,

أُو۟لَٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَٰمًا

“Mereka itulah orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.”

Bayangkan, Abu Qilabah selalu melihat sisi baik dari musibah yang menimpanya. Sakit adalah bentuk ampunan dosa, miskin mencegahnya dari sifat sombong, dan anak yang meninggal mencegah dari perbuatan maksiat anak.

Begitulah pola pikir seorang muslim saat tertimpa musibah.