Pembatasan Operasional Restoran
Efektifkah Pembatasan Operasional Restoran

Efektifkah Pembatasan Operasional Restoran – Sejumlah operasional pelayanan publik, pusat perbelanjaan dan food and beverage kembali dibatasi. Langkah ini diambil oleh pemerintah untuk menekan laju penyebaran Covid-19 selama libur akhir tahun.

Angka penyebaran Covid-19 yang kian mengkhawatirkan, membuat pemerintah pusat dan daerah harus mengambil langkah tegas. Namun, sejauh mana efektivitas dari kebijakan yang diambil oleh pemerintah?

Alih-alih mengambil kebijakan lockdown, pemerintah Indonesia sejak awal pandemi di tahun 2020, memilih untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah ini terkesan suam-suam kuku bagi beberapa pengamat.

Pembatasan Operasional Restoran dan Mal

Pembatasan operasional mal dan restoran contohnya. Apakah efektif menekan laju persebaran Covid-19? Di DKI Jakarta, Gubernur Anies Baswedan melalui Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 64, tahun 2021, membatasi operasional mal dan restoran hingga pukul 19.00 WIB.

Baca juga: Hati-hati! Dosa Ghibah Bisa Lebih Berat dari Zina

Dengan tetap beroperasionalnya restoran untuk makan di tempat hingga pukul 19.00, masih menyisakan ruang interaksi antar manusia, yang bisa menjadi potensi penyebaran virus ini. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengedepankan Protokol Kesehatan (Prokes), menjadikan kebijakan pembatasan operasional ini dirasakan tidak cukup efektif.

Interaksi yang dilakukan oleh pengunjung di restoran yang notabene minim penggunaan masker, menjadikan kondisi area tersebut rentan terhadap sebaran virus covid-19. Banyak sekali beredar di media sosial, warga yang mengunggah kegiatan bercengkerama bersama di restoran maupun café, tanpa sedikit pun menerapkan prokes yang benar.

Hal ini hampir menjadi lumrah ketika negara ini sudah hampir satu tahun dihantam pandemi. Kekendoran pengawasan pemerintah daerah yang dibarengi dengan ketidak sadaran warga. Hal ini menjadi alasan mengapa angka penyebaran Covid-19 di Indonesia terus memecahkan rekor.

Influencer pun mengambil peran, mengapa ketidak sadaran masyarakat akan pentingnya prokes. Raffi Ahmad, sebagai selebriti yang menerima vaksin gelombang pertama, pada 13/01, menjadi contoh pengaruh yang buruk bagi para pengikutnya.

Dipilihnya Raffi sebagai penerima vaksin pertama, tentu bertujuan untuk menjadikannya contoh pentingnya vaksin. Namun, vaksinasi terhadap Raffi tidak diikuti oleh pentingnya menerapkan prokes. Ketika pada hari yang sama, Raffi terlihat bersama beberapa selebriti dan pejabat menghadiri sebuah acara, tanpa adanya penerapan prokes, sama sekali.