Euforia Kemenangan dan Rusuh Suporter Sepak Bola yang Setanding
Rayakan kemenangan suporter Persija padati jalan MH Thamrin (foto : kompas.com)

Rasa kecintaan suporter klub sepak bola di Indonesia memang sudah berada di taraf fanatik. Rivalitas antar klub pada sebuah turnamen, menghasilkan pula musuh bebuyutan layaknya dua negara yang sedang berperang.

Paling tidak kita mengenal beberapa suporter klub saling bermusuhan, yang hampir selalu memicu kerusuhan tatkala bertemu dalam sebuah pertandingan. Misalnya, Jakmania, suporter Persija yang menjadi musuh bebuyutan dari Bobotoh, suporter Persib Bandung.

Hampir selalu pertandingan antar kedua klub ini berujung pada tindakan anarkis maupun tawuran. Seperti yang lalu-lalu, ketika kedua klub bola ini bertemu pada ajang Final Piala Menpora, di hari Minggu (26/4/2021) kemarin, kerusuhan pun terjadi.

Pertandingan yang dimenangkan oleh Persija itu berujung pada tindakan anarkis sejumlah suporter Persib yang hendak merusak kantor Persib sebagai luapan kekecewaan mereka.

Tak puas karena aksi mereka dihadang oleh polisi, sejumlah oknum Bobotoh pun melakukan razia terhadap kendaraan ber-plat B serta merusaknya. Sejumlah kendaraan dengan plat B dirusak oleh suporter.

Perbuatan anarkis dengan melakukan perusakan, apapun alasannya, merupakan tindak pidana yang diancam dengan hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan. Hal ini diatur di dalam Pasal 406 KUHPidana.

Suporter Jakmania Rayakan Kemenangan Namun Melanggar Aturan

Sedangkan di Jakarta, Jakmania juga merayakan kemenangan klub kesayangan mereka dengan melakukan konvoi secara beramai-ramai. Terlihat ribuan orang dengan menggunakan motor tumpah ruah menuju Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Konvoi ini melanggar ketentuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang sedang berlaku di Jakarta.

Dengan tidak menggunakan masker dan menimbulkan kerumunan di Bundaran HI, Jakmania telah melanggar Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 107 Tahun 2021 tentang PPKM Berbasis Mikro.

Baca Juga : Corona Masih Mengintai, Masyarakat Jangan Abai

Kejadian ini tentu saja memprihatinkan. Bahkan beberapa masyarakat juga merasa terganggu dengan konvoi yang memadati sepanjang jalan MH Thamrin – Sudirman ini.
Gabungan aparat TNI dan Polri pun segera turun di lokasi untuk membubarkan massa dan mengambil tindakan pengamanan. Sebanyak 36 orang diamankan oleh aparat, dan dibawa ke Polda Metro Jaya.

Dua kejadian sebagai reaksi atas sebuah pertandingan yang sama ini, menjadi gambaran betapa tidak ramahnya dunia sepak bola di Indonesia. Semangat sportivitas dari sebuah pertandingan hanyalah slogan yang tak bernilai bagi para pendukungnya.