Fenomena Bucin
Fenomena Bucin dan Islam

Fenomena Bucin dan Islam – Pernahkah Anda mendengar kata ‘bucin’? Kata itu adalah singkatan dari dua kata, yakni ‘budak’ dan ‘cinta’ atau budak cinta. Bucin menggambarkan sebuah kondisi manusia yang rela melakukan apa saja demi pasangannya.

Meski istilahnya baru, namun perilaku ini sudah ada sejak lama. Ingatkan kisah Romeo dan Juliet? Sang Romeo yang terjebak dalam rasa kasmarannya itu rela menenggak racun demi kekasihnya. Perilaku seperti itu pun termasuk dalam kategori bucin.

Dalam Islam pun, kisah bucin ada. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan kisah itu yakni,

ذَاكَ مُغِيثٌ عَبْدُ بَنِى فُلاَنٍ – يَعْنِى زَوْجَ بَرِيرَةَ – كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَتْبَعُهَا فِى سِكَكِ الْمَدِينَةِ ، يَبْكِى عَلَيْهَا

“Itu adalah Mughits, budak milik bani fulan, dia adalah suami dari Barirah. Mughits terus membuntuti Barirah di jalan-jalan kota Madinah, sambil mengharap belas kasihan dari Barirah.” (HR. Bukhari no. 5281).

Barirah dan Mughits adalah pasangan suami istri. Singkat cerita, Barirah begitu mencintai Mughits sebagai istrinya. Saking cintanya, ke manapun Mughits pergi, Barirah selalu mengikuti.

Sayangnya, Mughits tidak merasakan hal yang sama. Kerap kali air mata berlinang dari kedua mata Barirah lantaran sikap Mughits yang dingin. Barirah terus mengemis cinta istrinya sendiri atau dalam istilah milenial, ia adalah budak cinta.

Lantas, bagaimana Islam memandang hal ini?

Fenomena Bucin adalah Bentuk Siksaan

Baca juga: UU ITE Kebebasan Berpendapat Menjadi Polemik

Mengutip perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah dari Rhoudhotul Muhibbin, beliau berkata,

العشق نوم من العذاب والعاقل لا يختار عذاب نفسه

“Kasmaran berat adalah salah satu bentuk dari siksaan, maka orang yang berakal tidak akan sudi menyiksa dirinya sendiri”

Orang yang terlalu mencintai pasangannya kelak akan memberikan segalanya kepada orang tersebut. Mulai dari waktu, harta, bahkan nyawanya kalau perlu. Padahal, tugas seorang muslim adalah beribadah kepada Allah ta’ala, bukan kepada manusia.

Allah SWT berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Kala menjadi seorang bucin, manusia akan merelakan waktu ibadahnya untuk pasangannya. Merelakan waktu menimba ilmu, bahkan mengikuti segala perintahnya. Ini adalah bentuk siksaan yang luar biasa dahsyat karena orang itu kehilangan dirinya sendiri.

Mengatasi Bucin dengan Ilmu

Baca juga: Fenomena Deretan Artis Maju Pada Pilkada 2020

Bucin adalah fenomena psikologis di mana seorang manusia kecanduan akan rasa kasih sayang. Saat seorang manusia jatuh cinta atau memiliki hubungan cinta, zat dopamine dalam otak mereka aktif. Zat tersebut adalah zat yang memberikan efek bahagia kepada seseorang.

Singkatnya, seseorang yang bucin ketagihan untuk merasakan kesenangan dari zat dopamin tersebut. Sehingga, mereka terus-menerus mencari sumber kesenangan lewat hubungan asmara.

Hal ini juga berlaku sama seperti kecanduan lainnya. Misal, kecanduan obat-obatan terlarang, minuman keras, bermain game bahkan pornografi. Seluruh kegiatan rekreasional tersebut merangsang zat dopamin pada otak yang memberikan kesenangan pada tubuh.

Oleh sebabnya, Islam melarang seseorang untuk berlebihan dalam segala hal. Allah azza wa jalla berfirman,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا

“Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al Ma`idah: 77)

Kita harus menahan diri dari sesuatu yang dapat membuat kita kecanduan. Lebih khususnya kepada hubungan asmara. Bukankah Islam melarang kita untuk berpacaran?

Salah satu hikmah dari pelarangan pacaran adalah agar manusia tidak terjebak dalam fenomena bucin.