Festival Lembah Baliem
Festival Lembah Baliem Di Kaki Pegunungan Jayawijaya

Festival Lembah Baliem ini telah dilangsungkan puluhan kali dan dimulai pada tahun 1989. Berada di pegunungan Jayawijaya, Lembah Baliem terletak di ketinggian 1600 meter dari permukaan laut. Dikelilingi oleh pegunungan dan hamparan alam yang masih alami.  Pemandangan tak tertandingi dapat dinikmati pada suhu yang bisa mencapai 10 derajat celcius ketika malam tiba.

Lembah Baliem dihuni oleh tiga suku yang saling bertetangga, yaitu Suku Dani, Suku Yali dan suku Lani. Lembah Baliem ini masih terkesan tertutup bagi orang luar. Medannya yang sulit untuk mencapainya menjadi salah satu alasan kenapa Lembah Baliem masih alami dan tak terjangkau oleh peradaban modern.

Tiga suku yang mendiami Lembah Baliem, yakni suku Dani, Yali dan Lani, mempunyai tradisi mengadakan sebuah ritual perang dalam festival yang menjadi ajang adu kekuatan antar suku. Tapi tidak usah khawatir, festival ini aman untuk ditonton oleh siapa saja, karena diadakannya ritual atau tarian ini semata awalnya sebagai lambang kesejahteraan dan kesuburan mereka.

War Reenactment “Festival Lembah Baliem”

Festival Lembah Baliem
Beritapapua.id – Festival Lembah Baliem

Simulasi perang atau biasanya disebut dengan “war reenactment” ini dikemas dalam ritual tari yang asyik untuk dinikmati. Diawali dengan penculikan salah satu anggota suku tertentu, diikuti dengan tindakan balas dendam dari suku lainnya. Para pria dengan menggunakan koteka serta lukisan tubuh yang menjadi simbol kebesaran sukunya berpadu dalam sebuah irama perang yang memukau di hamparan alam yang masih belum tersentuh peradaban.

Baca juga: Rumah Kaki Seribu, Rumah Adat Unik Khas Suku Arfak Papua

Tidak mudah untuk mencapai Lembah Baliem dan menikmati pertunjukkan ini. Dari Bandar Udara Sentani di Jayapura, kita harus melanjutkan perjalanan menggunakan maskapai dengan penerbangan komersial jenis Cessna dengan pesawat kecil yang tentu tidak murah.

Festival Baliem telah mendunia, setiap tahun para turis dan pemburu gambar berbondong-bondong dan berjibaku untuk dapat mendokumentasikan festival yang ditutup dengan apik dengan puncak pertempuran para prajurit terbaik masing-masing suku serta dimeriahkan dengan bakar batu yang ditemani musik serta tarian tradisional khas Papua. Seni dan kerajinan tangan pun ikut dipertunjukkan dan dijual sebagai buah tangan.

Tertarik untuk mengunjungi Lembah Baliem?