FPI Menyerukan Gerakan Aksi 211 dan 411
Beritapapua.id - FPI Menyerukan Gerakan Aksi 211 dan 411 - Pantau

FPI Menyerukan Gerakan Aksi 211 dan 411 – Pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab mengajak umat Islam Indonesia untuk mengikuti aksi bela nabi Muhammad SAW, melalui aksi 211 dan 411 yang akan digelar di Jakarta dan Bandung dalam waktu yang berbeda.

“Saya serukan semuanya untuk aksi 211 (2 November) di Jakarta dan aksi 411 (4 November) di Kota Bandung. Untuk membela Nabi Muhammad SAW yang telah dihinakan, dilecehkan oleh Presiden Prancis. Yang dihinakan dilecehkan oleh sebagian masyarakat Prancis, oleh media-media Prancis,” kata Habib Rizieq lewat akun youtube Front TV, Minggu (1/11).

Rizieq pun menegaskan agar umat Islam tidak hanya berdiam diri apabila nabi Muhammad SAW dinistakan dan dihina. Untuk itu, dia pun mengajak umat Islam untuk menunjukkan kecintaan dan pembelaan kepada nabi Muhammad SAW.

“Jangan pernah diam, jangan pernah beri ruang sekecil apapun juga kepada siapapun yang ingin merendahkan melecehkan nabi kita sayidina Muhammad SAW,” tegas Rizieq.

Aksi 211 sendiri digelar di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Perancis, di Jl. MH Thamrin pada Senin (2/11). Sedangkan aksi 411 akan digelar pada 4 November mendatang. Dengan melakukan pawai atau longmarch dari Gedung Sate di Jalan Diponegoro menuju Gedung Merdeka di jalan Asia Afrika, Bandung.

Baca Juga: Kasus Positif Covid-19 Teluk Bintuni Terus Berkurang

Sikap Pemerintah Terkait Perancis

Presiden Jokowi sendiri mengecam keras tindakan penyerangan di Paris dan Nice beberapa hari lalu. Namun, Jokowi juga mengecam pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang menyebut serangan tersebut sebagai serangan teroris Islamis.

Jokowi pun mengingatkan bahwa tindakan mengaitkan terorisme dengan agama tertentu adalah suatu kesalahan besar. Menurutnya, terorisme tidak ada kaitan dengan agama apapun.

“Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Prancis yang menghina agama Islam, yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia yang bisa memecah belah persatuan antarumat beragama di dunia,” ujar Jokowi, lewat kanal Sekretariat Presiden, Sabtu (31/10).

“Di saat dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi COVID-19. Dan kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan,” tambahnya.