Frengki Duwit, Pengusaha Jamur Tiram Sukses Asal Papua
Beritapapua.id - Frengki Duwit, Pengusaha Jamur Tiram Sukses Asal Papua - Mongabay

Frengki Duwit, Pengusaha Jamur Tiram Sukses Asal Papua – “Jangan kita orang Papua berlomba-lomba untuk jadi Pegawai Negeri Sipil, kita bisa jadi pengusaha dengan memanfaatkan kekayaan alam di Papua, ” kata Frengki Duwit, pembudidaya jamur tiram asal Papua, dikutip dari mongabay (09/08/2020).

Sebuah kalimat sederhana, namun bermakna kuat. Bayangkan, jika dengan kalimat itu banyak dari anak-anak Papua yang kemudian bersemangat mengolah kekayaan Papua. Jika demikian, maka Frengki bukanlah sekadar pengusaha jamur tiram, melainkan seorang penggerak masyarakat.

Frengki Duwit, merupakan pria  kelahiran Teminabuan, Sorong Selatan, Papua Barat. Sudah sejak kecil ia bercita-cita untuk menjadi seorang pengusaha. Lulus dari Universitas Viktory Sorong, ia gencar mengejar mimpinya.

Sudah tiga tahun terakhir ia dan istrinya menekuni bisnis jamur tiram. Nama dari usahanya itu merupakan pemberian istrinya. D’Papua, sebutan untuk usaha jamur tiramnya. Menurut istrinya yang berasal dari Jawa, nama itu digunakan agar orang-orang tahu bahwa orang Papua punya usaha yang luar biasa.

“Nama ini diberikan oleh istri saya yang orang Jawa. Katanya agar orang tau bahwa ini milik orang Papua,” tutur Frengki.

Baca Juga: Sukses Menjadi Selebgram, Keanu Angelo Rambah Dunia Bisnis

Lika-liku Meramu Jamur Tiram

Frengki Duwit, Pengusaha Jamur Tiram Sukses Asal Papua
Beritapapua.id – Frengki Duwit, Pengusaha Jamur Tiram Sukses Asal Papua – Mongabay

Frengki mengaku, awalnya ia tidak tahu apa-apa soal jamur tiram. Ide itu muncul kala ia berdiskusi dengan kawannya seorang penjual es buah asal Jawa.

“Kamu dari Jawa tidak mungkin hanya jual es buah, pasti ada keahlian lain yang kamu miliki,” ujar Frengki.

Diketahui bahwa kawannya itu pandai membudidayakan jamur. Hanya saja tidak memiliki dana. Dari sana, kisahnya bermula. Awalnya, Frengki bergerak sebagai distributor dan kawannya yang membudidayakan jamur. Namun, lantaran Frengki tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar membudidayakan, akhirnya mereka berdua pisah.

Frengki mencoba menggarap usaha jamur tiram berdua dengan istrinya. Pengalaman bekerja sebelumnya tidak cukup. Ia belum mampu menggarap usaha jamur tiram sendiri. Namun, Frengki tak patah semangat. Ia kemudian mencari segala sumber untuk belajar, termasuk menggunakan fasilitas internet.

“Saat itu, hampir setiap hari saya dan istri ke tempat Wifi untuk belajar lagi soal pengolahan jamur tiram,” tutur Frengki.

Dari sana, ia bertemu dengan orang Cianjur yang paham soal budidaya jamur. Ia pun rajin berkonsultasi dengan orang itu via telepon untuk mengembangkan usahanya.

Awal usahanya, Frengki tak punya lahan. Ia kemudian menyulap garasi mobilnya sebagai ladang jamur tiram. Bermodalkan 4 juta rupiah, kini usahanya mulai berbuah manis.

“Karena belum punya lahan, saya gunakan garasi mobil untuk usaha ini dengan modal awal Rp 4 juta,” ujarnya.

Mengapa Jamur Tiram?

Usaha Frengki Duwit dan istrinya patut diacungi jempol. Ini adalah bentuk pemanfaatan lingkungan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat yang cerdas. Bagaimana tidak? Selain dapat memperoleh laba dan membuka lapangan kerja, usaha ini ramah lingkungan.

Bisnis Frengki berperan dalam mengurangi sampah seperti serbuk kayu dan katul padi. Kedua limbah tersebutlan yang menjadi media tanam jamur tiram.

Jamur tiram dinilai kaya manfaat bagi kesehatan manusia. Beberapa di antaranya dapat meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan kolesterol, mencegah kanker, hingga meningkatkan kolagen.

Kejeliannya dalam melihat peluang tersebut berbuah manis. Kini, ia mampu meraup keuntungan secara intens. Bahkan, Frengki mengaku usahanya tidak terlalu terdampak oleh pandemi Covid-19. Terus laris manis selama pandemi.

Kini ia mampu menyewa lahan seluas 14×100 meter atau sekitar 1.400 meter persegi. Bahkan, sejak Juni 2017, Frengki mampu menghasilkan 30 kilogram dengan harga Rp35.000 per kg.

Ini boleh jadi merupakan terobosan ketahanan pangan yang bisa menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia.