Mati Meninggalkan Hutang
Gajah Mati Meninggalkan Gading, Manusia Mati Meninggalkan Hutang. Source: google.

Manusia Mati Meninggalkan Hutang – Nikmat ketika dibutuhkan, sengsara ketika harus membayar. Berhutang sudah menjadi merupakan kelaziman dalam dunia finansial kita. Ketika kita harus membayar atau memerlukan sejumlah dana di luar aktiva kita, apa yang bisa kita lakukan? Berutang.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berhutang. Jika, dilakukan dengan perhitungan yang matang dan diukur dengan kemampuan membayar di masa datang. Berhutang menjadi sangat berisiko jika dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif yang tidak produktif. Apalagi jumlahnya melebihi 30% dari total penghasilan kita. Maka beban hutang yang muncul di setiap tagihan di awal bulan, bisa menjadi bencana keuangan.

Hutang tidak sehat dan berisiko yang menumpuk, mempunyai potensi tak bisa terbayarkan di masa mendatang. Jika kemudian hutang ini tidak mampu terlunaskan, maka bukan hanya menjadi beban si yang berhutang, namun juga akan terus ada sebagai warisan.

Mati Meninggalkan Hutang dan Merupakan Waris

Warisan, dalam perdata merupakan pengalihan harta yang ditinggalkan beserta akibatnya. Hal ini mencakup keseluruhan kekayaan, baik itu aktiva maupun pasiva. Maka ahli waris yang memutuskan untuk menerima warisan dari pewaris, harus menerima keseluruhan baik itu harta aktiva maupun pasiva yang bisa berupa hutang dan beban lainnya yang ditinggalkan oleh si pewaris.

Hal ini diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), Pasal 1100 yang berbunyi “Para ahli waris yang telah bersedia menerima warisan, harus ikut memikul pembayaran hutang, hibah wasiat dan beban-beban lain, seimbang dengan apa yang diterima masing-masing dari warisan itu.”

Ini berarti, sebagai seorang ahli waris, jika ia menyatakan menerima warisan tersebut secara tegas, maka ada kemungkinan, harta kekayaan yang dimiliki oleh pewaris, tidak cukup untuk membayar hutang. Maka hutang tersebut, secara otomatis, akan berpindah bebannya, kepada penerima waris untuk dilakukan pelunasan.

Untuk itu, sebagai ahli waris, seseorang harus meneliti betul apa yang menjadi warisan, yang akan diterimanya. Maka, dalam hak keperdataan, seorang yang memperoleh hak waris, dapat terlebih dahulu mempertimbangkan yang terbaik baginya.

Warisan Bisa Ditolak, Jika Tak Menguntungkan

Baca juga: Sebentar Lagi Bulan Ramadhan 2021, Persiapkan 3 Hal Ini!

Hak untuk berpikir, perihal diterima atau ditolaknya sebuah warisan, diatur di dalam Pasal 1023 KUHPerdata, yang berbunyi “Barangsiapa memperoleh hak atas suatu warisan dan sekiranya ingin menyelidiki keadaan harta peninggalan itu, agar dapat mempertimbangkan yang terbaik bagi kepentingan mereka, apakah menerima secara murni, ataukah menerima dengan hak istimewa untuk merinci harta peninggalan itu, ataukah menolaknya, mempunyai hak untuk berpikir, dan harus memberikan pernyataan mengenai hal itu pada kepaniteraan Pengadilan Negeri yang dalam daerah hukumnya warisan itu terbuka; pernyataan itu harus didaftarkan dalam daftar yang disediakan untuk itu.”

Jika dalam jangka waktu berpikir dan merinci perihal warisan yang menjadi haknya, si ahli waris memutuskan untuk menolak warisan yang jatuh kepadanya, maka ia harus membuat pernyataan di Pengadilan Negeri tempat warisan tersebut terjadi. Dimana pernyataan ini kemudian dicatat di dalam register Pengadilan Negeri. Hal ini diatur di dalam Pasal 1057 KUHPerdata.

Bagaimana Nasib Hutangnya?

Jika semua ahli waris memutuskan untuk menolak warisan yang menjadi haknya, lantas bagaimana nasib kreditur, atas hutang dari pewaris yang menjadi debitur? Menurut Pasal 1061 KUHPerdata, seorang kreditur dapat mengajukan permohonan kepada hakim, supaya diberikan kuasa untuk menerima warisan. Hal ini dimaksudkan agar harta yang menjadi warisan dari debitur, yang bersifat positif atau aktiva, bisa mengurangi beban hutang yang menjadi hak dari kreditur. Sederhananya, pihak kreditur menerima warisan dari debitur, dalam rangka pelunasan baik itu sebagian maupun keseluruhan dari hutang debitur atau pewaris.

Referensi manajemen hutang:

Utangku Sehat Nggak Ya?