Gaya Hidup Milenial, Semua Orang Bisa ‘Kaya’
beritapapua.id - Gaya Hidup Milenial, Semua Orang Bisa ‘Kaya’ - Associated Press

“Kita sampai pada era di mana siapa pun bisa terlihat kaya. Media sosial mengubah perspektif khalayak soal kepemilikan harta. Hadirnya teknologi melahirkan dikotomi orang kaya baru dan orang kaya lama. Harta dan tahta digandrungi demi status sosial semata.”

Siapa yang tak ingin kaya? Pertanyaan retoris itu menjadi hantu bagi tiap generasi. Namun, kehadiran media sosial nyatanya merubah pertanyaan tersebut. Generasi milenial dihadapkan pada pencarian jati diri dalam jagat maya, sehingga pertanyaan: Siapa yang tak ingin ‘terlihat’ kaya?

Mengungkap isi anjungan tunai mandiri (ATM) menjadi fenomena yang belum lama ini mencuat. Sebutlah sejumlah selebriti yang beberapa waktu lalu menampakkan saldo rekeningnya. Tak jelas apa motifnya, namun kehadiran tren anyar ini menyita perhatian publik. Nampaknya, soal siapa yang kaya dan siapa yang tidak menjadi hal yang serius dalam dunia maya. Tak masalah bagi mereka yang ‘beneran’ kaya. Lantas, bagaimana yang hanya ‘berlaga’ kaya?

Baca Juga: China dan AS Klaim Sudah Menemukan Vaksin Covid-19

Orang Kaya Baru Vs Orang Kaya Lama

Fenomena unjuk gigi di media sosial ini lantas menjadi sebuah dikotomi antara mereka yang selalu ingin terlihat kaya–disebut Orang Kaya Baru (OKB)–dan mereka yang gelagatnya bertolak belakang dengan OKB, namun nyatanya punya banyak tabungan–disebut dengan Orang Kaya Lama. Apa sih perbedaannya?

Melansir dari salah satu artikel di detik.com yang ditulis oleh Aidil Akbar Madjid terdapat sejumlah perbedaan antara OKB dan OKL dilihat dari perangainya di jagat maya. Beberapa di antaranya adalah:

1. Kerap pakai barang mewah di depan publik

Barang yang digunakan atau dikenakan kerap menunjukkan status sosial seseorang. Meski tak sepenuhnya benar, masih banyak orang yang berusaha memanjat status sosial melalui barang yang dikenakannya. Bahkan, mengambil foto dengan barang orang lain seraya mengakui kepemilikannya juga menjadi opsi, loh.

2. Status sosial lebih penting

Baru-baru ini kita menemukan unggahan yang memperlihatkan gaya hidup seseorang. Mulai dari di mana ia habiskan waktu senggangnya, hingga apa yang ia miliki. Bagi OKB, bisa saja unggahan itu direkayasa demi meraih eksistensi semata. Misal, pernahkah Anda menemukan sebuah unggahan yang mengungkapkan bagaimana cara mendapatkan hasil foto layaknya sedang duduk di samping jendela pesawat? Atau yang lebih parah, swafoto sambil bersandar di samping atau di kap mobil orang dengan caption “mobil saya”? Bagaimana menurut Anda?

3. Orientasi barang yang dibeli adalah branded

Barang bermerek atau barang branded biasanya dibanderol dengan harga yang tinggi. Secara tak langsung hal itu menyebabkan disparitas status sosial berdasarkan kemampuan untuk membelinya. Dengan kata lain, mampu membeli barang branded sama dengan orang kaya. Namun yang menjadi masalah, kerap kali barang branded dibeli dengan cara kredit, bahkan hutang. Tak ada yang salah dengan kredit apa bila mampu membayarnya. Yang jadi persoalan, membeli barang secara kredit demi status semata, kemudian tak mampu bayar. Wah, menyusahkan sekali!

Media Sosial, OKB, dan ‘Social Climbing’

Media sosial memberi kemudahan bagi siapapun pengampunya untuk eksis di mata warga dunia maya. Layaknya logam, tentu ini memiliki dua sisi. Dari segi finansial saja, misalnya, media sosial memberikan wadah untuk mencari sesuap nasi. Darinya, muncul banyak selebriti dadakan yang mendulang jutaan rupiah dari kontennya.

Namun di sisi lain, masih dalam segi finansial, ini bisa membuat bangkrut, lo. Dalam konteks OKB yang selalu ingin terlihat kaya, mereka tak segan untuk menghabiskan uangnya demi status itu. Ingin selalu dilihat kaya adalah salah satu bentuk social climbing atau panjat sosial. Sebenarnya, fenomena apakah itu?

Melansir dari sejumlah sumber, social climbing atau panjat sosial adalah sebuah keinginan untuk diterima oleh banyak kalangan, khususnya orang-orang dengan status sosial tinggi. Keinginan ini mendorong seseorang untuk melakukan segala cara agar mendapatkan pengakuan itu, termasuk gencar dalam membeli barang-barang mewah. Masyarakat dalam pusaran panjat sosial kemudian mencetak OKB-OKB baru.

Tren ini dapat dijelaskan secara sosio-psikologis. Jika membahas menggunakan pemikiran Leon Festinger dalam teori perbandingannya, fenomena social climber dapat dilihat dari segi membandingkan diri dengan orang lain. Dalam satu sisi ini bernilai positif manakala seseorang termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi melalui prestasinya. Namun, kegagalan dalam meraih itu tentu memunculkan perasaan negatif yang bermuara pada jalan pintas.

Fenomena OKB jika dilihat melalui kacamata Festinger dengan demikian dapat disimpulkan sebagai kompetisi dalam membandingkan diri soal siapa yang kaya–maksudnya terlihat kaya. Alih-alih jadi beneran kaya, malah jadi kehilangan harta. Kan, sia-sia. Agaknya, orang yang ‘beneran’ kaya tak memamerkan kekayaannya. Misal, Mark Zuckerberg yang ke mana-mana hanya mengenakan kaus oblong. Kenapa mesti berlomba, toh?

Bagaimana menurutmu?