Beberapa tahun terakhir, istilah healing ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam Bahasa Psikologi, istilah ini disebut sebagai pemulihan masalah psikologi.

Namun, bagi kaum muda, healing diartikan sebagai liburan setelah penat karena stress dan kelelahan yang dialami mereka, terutama Gen Z.

Sebagian orang memandang hal ini berlebihan. Inilah alasan yang membuat Gen Z memiliki steretiop sebagai generasi yang manja. Namun, apakah benar demikian?

Gen Z adalah generasi yang lahir pada tahun 1995 atau pasca millenial. Generasi ini lahir dalam di era gencarnya perkembangan digital.

Ternyata hal ini memengaruhi pola pikir dan perkembangan mereka. Jika di zaman dahulu, seorang remaja ditanya mengenai cita-citanya, maka kebanyakan mereka akan menjawab ingin menjadi dokter, tentara dan sebagainya.

Sementara itu, Gen Z yang saat ini didominasi oleh remaja, kebanyakan dari mereka memiliki cita-cita menjadi YouTuber, influencer bahkan selebgram.

Dalam sebuah penelitian, dibuktikan bahwa Gen Z ini merupakan generasi yang mendominasi penggunaan media sosial.

Gen Z banyak dijuluki sebagai generasi kreatif, inovatif, dan sangat paham akan teknologi. Generasi ini juga sangat mementingkan popularitas di media sosial.

Tetapi, tidak sedikit juga yang menyebutkan bahwa Gen Z ini generasi yang manja. Tidak bisa dipungkiri, teknologi yang semakin maju membuat kehidupan Gen Z saat ini disuguhkan dengan berbagai kemudahan.

Sebagaimana artikel Bruce Tulgan dan Rainmaker Thinking, Inc. yang berjudul “Meet Generation Z: The Second Generation within The Giant Millenial Cohort” yang dilakukan pada 2003 hingga 2013 menyimpulkan bahwa media sosial merupakan sebuah kemudahan yang membuat Gen Z memiliki pola pikir global.

Tak jarang, kita seringkali mendapatkan cerita dari para orangtua mengenai betapa susahnya kehidupan zaman dahulu.

Berbeda dengan zaman sekarang yang serba ‘instan’ ini. Contohnya, di zaman dahulu jika seseorang ingin makan, maka mereka harus memasaknya terlebih dahulu.

Siswa di zaman dahulu mengerjakan pekerjaan rumah mengharuskan mereka ke perpustakaan ataupun bertanya kepada orangtuanya. Berbeda di zaman sekarang, jika ingin makan, tinggal klik aplikasi, kita sudah bisa menikmati makanan dalam sekejap.

Mencari tugas pun demikian. Mbah google menjadi solusi bagi sebagian besar pelajar di dunia ini untuk menyelesikan pekerjaan rumah mereka.

Kemudahan ini memang terlihat sebagai sebuah keuntungan besar. Tsunami informasi yang mereka dapat dari manca negara membuat mereka menjadi generasi yang informatif.

Dengan hal ini, menyebabkan adanya akulturasi budaya ataupun perubahan perilaku yang terjadi dari generasi sebelumnya.

Namun, apakah kemudahan ini merupakan hal yang baik? Apakah hal yang serba instan ini memiliki dampak buruk kepada generasi z saat ini?

Media sosial yang membuat segalanya menjadi instan ini ternyata membuat Gen Z tidak terbiasa dengan proses. Mereka cenderung menyukai hal yang mudah dan ‘instan’ dibandingkan melewati proses panjang.

Selain itu, kecemasan juga cenderung dialami Gen Z saat memasuki dunia kerja. Menurut studi dari Forbes (2018), 77% Gen Z merasa stress di tempat mereka bekerja karena pandangan mereka yang merasa lingkungan kerja kompetitif, waktu yang sedikit untuk mengerjakan tugas dan jam kerja yang panjang.

Penyebab lain Gen z dianggap manja karena Gen Z memiliki kehidupan ekonomi yang lebih sejahtera dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini menyebabkan Gen Z mendapat banyak kemudahan dan dimanjakan.

Mereka menjadi tidak terbiasa mengenali perjuangan untuk mendapatkan suatu hal.

Meskipun demikian, tidak sedikit Gen Z yang memanfaatkan peluang di era digital ini. Melalui media sosial ini, banyak Gen Z menjadi generasi yang menjadi inovatif dan melakukan banyak kegiatan positif, beberapa di antaranya ialah membuat konten bermanfaat, membuat aplikasi, bahkan membuat Start-Up.

Hal ini lah yang membuat mereka juga di pandang sebagai generasi High Tech. Maka dari itu, untuk Gen mari hilangkan steretiope manja itu dengan banyak berkarya!