George Floyd: Simbol dari Sentimen Ras yang Tak Kunjung Pupus
beritapapua.id - George Floyd: Simbol dari Sentimen Ras yang Tak Kunjung Pupus - Muslim Obsession

Gelombang protes terhadap kebrutalan polisi di Minnesota yang mengakibatkan hilangnya nyawa George Floyd masih membara. 50 negara bagian di Amerika Serikat melakukan protes dengan melakukan long march di sepanjang jalan. Tak hanya menuntut keadilan atas hilangnya nyawa George Floyd, namun protes terhadap isu rasisme yang sudah begitu mengakar di AS.

Bukan hanya di AS saja, namun beberapa negara di Eropa seperti Perancis, Inggris dan Islandia turut melakukan protes atas hal yang sama. Black Lives Matter (BLM) bukanlah sebuah gerakan yang hanya bisa dilihat dari perspektif kebrutalan polisi saja. Suara protes terhadap hegemoni serta supremasi atau hak istimewa dari orang-orang kulit putih.

George Floyd: Simbol dari Sentimen Ras yang Tak Kunjung Pupus
Beritapapua.id – Gerakan Black Lives Matter, gelombang protes terhadap kematian George Floyd yang dilakukan di Spanyol. Sumber: thelocal.es

Dengan menyuarakan Black Lives Matter (Hidup orang kulit hitam berharga), bukan berarti suku dan ras lain tidak berharga. BLM adalah suara atas hilangnya keadilan terhadap orang kulit hitam di Amerika Serikat maupun negara2 Eropa lainnya. BLM adalah suara atas opresi aparat berdasarkan sentimen suku dan ras. BLM lebih global adalah suara atas diskriminasi terhadap minoritas yang kerap terjadi di hampir seluruh negara.

Diskriminasi berdasarkan ras, suku dan agama terlalu sering menjadi kenyataan yang disajikan di dalam hidup kita. Sentimen terhadap ras tertentu tidak hanya terjadi di negara Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri, ini masih menjadi sebuah  momok yang laten.

Diskriminasi, kebencian merupakan hal yang dipelajari dari lingkungan sekitar. Diskriminasi dan kebencian bukanlah sikap yang muncul sebagai bagian dari manusia. Tumbuhnya sentimen yang menjadi dasar dari munculnya diskriminasi dan kebencian dipupuk oleh hal dan ucapakan yang kita pelajari dari lingkungan sekitar ketika kita tumbuh. Hal ini dinyatakan oleh Sekretaris Jenderal PBB pada pidatonya tentang perang terhadap diskriminasi. Lanjutnya, kebencian yang diajarkan itu, bisa dihilangkan dengan pendidikan yang baik.

Baca Juga: Jokowi Ditetapkan Bersalah Atas Kasus Pemblokiran Internet di Papua

Primordialisme dan Sentimen di Indonesia

Kenyataannya, sebagian besar dari masyarakat masih dibesarkan dengan stigma yang didapat dari orang tuanya sendiri serta diamplifikasi dengan hikayat. Isu primordialisme begitu melekat pada kehidupan kita yang begitu berpegang pada adat. Ini bisa menjadi dasar munculnya sentimen terhadap suku, ras atau agama tertentu.

Pada kehidupan keseharian kita, terutama di Pulau Jawa, friksi antara Suku Jawa dan Sunda yang dilandasi oleh sentimen begitu kuat. Berdasarkan cerita tentang Perang Bubat, beberapa kelompok masyarakat masih melarang terjadinya percampuran antara orang Jawa dan orang Sunda. Sentimen ini dipelihara bahkan di zaman serba keterbukaan. Meski kini hal ini sudah jarang terdengar, namun jejaknya masih terlihat dari cerita.

Percampuran ras, suku dan agama masih menjadi tabu bagi sebagian masyarakat Indonesia. Ini merupakan sekat yang begitu dipupuk dengan cerita-cerita pamali yang mengekor pada larangan.

Perjalanan kita masih panjang untuk merasakan bineka tunggal ika di negara yang begitu beragam ini. Retorika dan jargon toleransi masih butuh pembelajaran panjang, ketika kita masih begitu prejudis kepada sesama anak bangsa.