Gulat Tradisional Asal Suku Malind Kimaam, Papua
beritapapua.id - Ilustrasi Gulat Tradisional Asal Suku Malind Kimaam, Papua - Merdeka

Gulat Tradisional Asal Suku Malind Kimaam, Papua – Nampak dua orang pria tengah berseteru. Di sebuah tanah berlumpur mereka adu kekuatan. Kedua orang itu saling memiting dan berupaya untuk menjatuhkan lawannya. Di sekitarnya, terlihat beberapa orang lainnya yang nampak menyoraki mereka.

Tapi tunggu, dua orang yang sedang adu kekuatan itu bukan sedang bertengkar. Mereka sedang melakukan sebuah olahraga tradisional yang disebut dengan Gulat Bob. Permainan tersebut sudah menjadi permainan masyarakat suku Malind Kimaam sejak zaman nenek moyangnya dahulu.

Suku yang berada di Selatan Papua, Kabupaten Merauke itu menjadikan olahraga gulat sebagai bentuk penyelesaian perselisihan konflik antar marga. Leonardus Werre, tokoh masyarakat Suku Malind Kimaam, mengungkapkan gulat bob merupakan tradisi yang spesial. Bahkan setiap tahun, tradisi itu kerap dilakukan dalam rangka menyelesaikan perselisihan.

Leonardus mengatakan bahwa perselisihan yang umum melatarbelakangi tradisi gulat bob adalah persoalan perempuan. Ia mengungkapkan bahwa kerap kali seorang lelaki memikat perempuan yang berbeda marga, atau bahkan menggangu perempuan warga lain. Perseteruan di dalam Suku Malind Kimaam dapat bergerak mulai dari adu pukul hingga saling bunuh. Busur dan panah, hingga alat tajam digunakan saat perselisihan terjadi.

“Dari sejak nenek moyang itu sudah ada gulat bob. Itu biasa terjadi itu tidak seperti pesta lain, tapi sering diadakan. Bahkan setiap tahun ada. Tapi itu biasa terjadi karena ada perselisihan. Antara marga dengan marga, lelaki ambil perempuan dari marga yang lain. Akhirnya terjadi perselisihan, maka kedua belah pihak itu biasa sering adakan perkelahian, bahkan bisa pakai panah dan busur,” tutur Leonardus.

Namun, ada saja pihak yang tak ingin terjadi pertumpahan darah. Bagi Suku Malind, kehormatan seorang pria terletak pada kekuatan fisiknya tanpa menggunakan alat-alat bantu seperti busur panah.

“Kalau kau laki-laki, kau lepas itu barang. Kita adu tenaga. Maka terjadi itu gulat bob,” jelas Leonardus.

Baca Juga: Hamil Anak Pertama, Nicki Minaj Pamer Perut Buncit

Olahraga Sebagai Pemersatu Warga

Gula bob bukan sembarang perkelahian tanpa aturan. Ada aturan serta proses yang perlu dilalui sebelum menjalani tradisi itu. Kedua pihak yang berseteru kemudian bertemu bersama masing-masing keluarganya. Mereka membahas persoalan yang dibuat oleh anggota keluarga yang bermasalah dan menentukan penyelesaiannya.

“Itu ada peraturan, tidak bisa langsung. Tidak bisa macam yang muda dengan yang tua, setidaknya berbeda 1 tahun, walaupun berbeda bulan, yang penting satu tahun,”

Salah satu pihak biasanya membawa pelepah sagu saat pertemuan antar keluarga. Kemudian, pihak yang menerima tantangan gulat tersebut akan mengambil daun tersebut yang nantinya akan dibawa saat pertandingan.

Tak seperti gulat modern saat ini, gulat bob menggunakan alat yang serba tradisional. Arena yang digunakan untuk bertanding adalah tanah berlumpur atau daerah pantai dengan hamparan pasir mengikuti ekologi dari tempat tinggal Suku Malind Bob. Pertandingan diiringi oleh tabuhan tifa dan sejumlah tarian. Agar pertandingan berjalan dengan adil, gulat bob tetap memiliki wasit.

Terdapat tiga gerakan khas dalam gulat bob ini. Pertama, gulat diawali dengan gerakan saling memeluk dengan kaki sedikit terbuka. Kemudian, petarung akan bergerak ke kanan dan ke kiri sembari sedikit melompat guna membuat celah untuk menjatuhkan lawang. Gerakan ketiga merupakan gerakan bantingan dengan mengangkat lawan dan menjatuhkannya dengan bagian pundak terlebih dahulu.

Petarung yang berhasil menjatuhkan lawan dianggap mendapatkan poin. Pelepah sagu yang sebelumnya dibawa berfungsi untuk menghitung skor dari pertandingan tersebut. Yang paling banyak menjatuhkan lawan, ialah pihak yang menang. Menariknya, biasanya gulat bob tidak dilakukan sebagai pertandingan perorangan, melainkan beregu. Dalam satu pertandingan, biasanya terdapat sejumlah orang yang itu bertanding dari keluarga yang bertikai.

Tidak ada yang mengetahui siapa atau mulai kapan gulat bob ada. Namun, Leonardus dapat memastikan bahwa gulat ini hanya ada di masyarakat Suku Malind Bob.

“Gulat bob hanya terdapat di orang Kimaam saja, khususnya di Malind Bob. Tidak ada di suku lain,” jelas Leo.

Setelah pertandingan usai, peserta akan duduk bersama sambil bertukar buah pinang. Hal tersebut menandakan bahwa mereka telah berdamai dan masalah sudah selesai. Mereka menutup acara tersebut dengan saling berpelukan dan berjabat tangan sebagai bentuk perdamaian.