Gunung Emansiri Lobo, Tempat Peristirahatan Garuda dan Naga
beritapapua.id - Gunung Emansiri Lobo, Tempat Peristirahatan Garuda dan Naga - adventuretravel

Gunung Emansiri terletak di Teluk Triton, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Gunung yang terkenal akan kisah legendaris naga dan garuda itu terletak di salah satu teluk di Papua Barat yang menjadi surga bagi flora dan fauna.

Tak hanya berpemandangan surgawi, Teluk Triton menjadi rumah bagi sekitar 959 jenis ikan dan 471 jenis karang yang hidup di dalam bawah laut Teluk Triton. Paus bryde kerap menyambangi teluk itu. Menari-nari di perairan surgawi laut Papua Barat, tanpa khawatir akan gangguan manusia. Tidak ada masyarakat Teluk Triton yang memburu mamalia itu. Mereka menganggap paus sebagai keluarga, bahkan penyelamat manusia.

Dengan segala keindahan beserta kearifan warganya, tak ayal jika seekor naga dan garuda pernah tinggal di sana. Masyarakat Kampung Lobo, Teluk Triton, percaya akan keberadaan dua makhluk legendaris tersebut di lingkungan tempat tinggal mereka, tepatnya di Gunung Emansiri.

Baca Juga: Program Penguatan Pangan Lokal Papua Barat

Kisah Garuda dan Naga di Gunung Emansiri

Konon, jejak dari kisah legenda burung garuda dan naga di Gunung Emansiri masih ada. Dahulu kala, gunung yang menjulang tinggi di Kampung Lobo itu dihuni oleh dua makhluk legendaris, yakni seekor burung garuda raksasa dan ular naga yang memiliki batu permata nan indah.

Kontur gunung yang terjal nan tinggi membuat sang ular naga tak bisa pergi dari sana. Selama itu, ia sang garuda-lah yang membantunya hidup. Burung legendaris itu bebas berpergian kemana-mana untuk mencari mangsa. Bahkan, seluruh Papua pun ia sambangi. Namun, ia selalu kembali pulang ke Gunung Emansiri dengan membawa makanan untuk sang ular naga. Burung itu kerap berburu mangsa di seluruh Papua, seperti satwa hutan, ikan, atau apapun itu yang bisa dimakan.

Suatu hari, masyarakat Kampung Lobo melihat sang garuda membawa sebuah kapal Kole-kole–sebuah kapal tradisional yang terbuat dari satu batang pohon besar–beserta seorang penumpang kapal tersebut. Setelah melihat kejadian itu, masyarakat ketakutan resah bukan main. Rasa takut yang kian menghantui membuat mereka bahkan tak keluar rumah sepanjang siang.

Masyarakat Lobo hanya keluar di waktu malam hari saat burung garuda tidak berburu. Bagi mereka yang bertani dan berkebun, acapkali mereka lari tunggang-langgang kala melihat bayangan burung garuda melintas di ladang mereka. Begitulah kehidupan masyarakat Kampung Lobo. Kesehariannya selalu diliputi rasa cemas.

Jengah dengan situasi tersebut, masyarakat akhirnya berembuk untuk memikirkan cara mengusir hewan itu. Tatkala mereka berembuk, sebuah kapal besar dengan tiga tiang penyangga layar mendekati Kampung Lobo dari kejauhan. Kehadiran orang asing membalikkan keadaan di sana.

Meski awalnya takut dengan orang asing, akhirnya warga Lobo menceritakan keresahan mereka kepada gerombolan petualang itu. Mereka menuturkan kisah burung garuda raksasa yang kerap berkeliaran mencari mangsa, serta seekor ular naga di Gunung Emansiri yang memiliki mestika indah mempesona. Mendengar kisah itu, sang petualang asing menjawab tantangan warga Kampung Lobo.

Kisah Dari Teluk Triton: Berburu Hewan Legendaris

Setelah usai mempelajari situasi dan menyusun strategi, si orang asing memasang jebakan untuk garuda raksasa. Mereka meletakkan rakit di tengah laut dengan seekor anjing di atasnya. Benar saja, sang garuda mengambil umpan itu. Kala burung raksasa itu muncul, orang asing itu mulai melepaskan tembakan melalui senapannya.

Setelah melewati perlawanan sengit, burung garuda itu terkapar tak berdaya dengan kedua sayapnya patah. Ia jatuh ke sebuah pulau kecil di dekat Kampung Lobo. Saking besarnya burung legendaris itu, sayapnya menutupi sebuah pulau itu.

Selesai dengan garuda, si orang asing pergi mengejar sang ular naga. Ia bersama timnya memanjat Gunung Emansiri yang terjal nan tinggi menggunakan tali dan membuat sebuah jembatan. Setelah menempuh perjalanan berat, mereka menemukan ular naga yang tengah asyik bermain dengan mestikanya.

Ia melepaskan tembakan ke arah ular naga itu. Berbeda dengan garuda sebelumnya, ular naga itu lari tanpa perlawanan dan meninggalkan batu permatanya yang indah itu. Setelah mendapatkan permata sang naga, orang asing itu langsung meluncur menuruni gunung dan pergi meninggalkan Kampung Lobo.

Kisah orang asing yang berhasil mengalahkan garuda dan merebut mestika naga itu akhirnya menjadi latar belakang penamaan teluk di Kabupaten Kaimana itu, yakni Triton. Dalam mitologi Yunani, Triton merupakan anak dari dewa laut yang perkasa. Boleh jadi, nama itu diambil dari kisah heroik orang asing tersebut.