Hantu di Raja Ampat, Papua Barat
beritapapua.id - Hantu di Raja Ampat, Papua Barat - calicojackcharters

“Hantu di Raja Ampat punya makna yang berbeda, apakah itu?”

Bukan mitos kapal hantu The Flying Dutchman, kapal yang dikutuk untuk terus berlayar tanpa pernah bisa berlabuh, tapi soal mengapa mitos empat raja di Raja Ampat. Sekilas dari namanya saja, wilayah yang digadang sebagai amazon laut itu terkesan memiliki cerita mengenai seorang raja. Keindahan alamnya yang mendunia itu menyimpan cerita.

Flying Dutchman merupakan mitos yang begitu terkenal. Konon, kapal hantu ini kerap muncul untuk menandakan badai. Apabila terlihat di malam hari, maka pelaut dapat melihat sosok Barend Fockesz, kapten dari De Kroonvoge, atau yang saat ini disebut The Flying Dutchman. Legenda ini begitu terkenal Pulau Cipir, Kepulauan Seribu, Indonesia.

Sama tapi tak serupa, kisah Raja Ampat tak kalah pamornya dengan kisah Flying Dutchman. Raja Ampat merupakan nama yang merepresentasikan raja-raja di wilayah tersebut. Nama tersebut antara lain, Raja Betani di Salawati, Dohar menjadi Raja di Lilinta atau yang sekarang disebut Misool, Mohamad merupakan raja di Waigama, dan War sebagai raja di Waigeo.

Masyarakat hingga saat ini tidak tahu siapa yang memberikan nama raja-raja tersebut. Namun, warga mengetahui asal-usul mereka.

Baca Juga: Gubernur Maluku Keluarkan Lima Poin Maklumat Sikapi Covid-19

Asal-usul Raja-raja di Raja Ampat

Zaman dahulu kala hidup sepasang suami istri di Teluk Kabui, Kampung Wawiyai. Mereka hidup sederhana. Sehari-harinya mereka merambah hutan untuk mencari bahan makanan. Sehari-harinya, hanya menyusuri hutan dengan penuh harap menemukan apa yang mereka cari. Suatu ketika, saat mereka sedang beristirahat di Sungai Waikeo, mereka melihat lima butir telur. Telur itu terlihat tak biasa.

Saat malam tiba, telur berbentuk aneh yang mereka bawa pulang menggunakan noken itu mulai mengeluarkan suara-suara yang aneh. Penasaran, pasangan suami istri itu pun mengintip telur-telur yang mereka simpan itu. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Telur itu berubah menjadi empat orang anak laki-laki dan satu anak perempuan. Anak-anak itu muncul begitu saja dengan mengenakan pakaian halus, pertanda keturunan raja.

Masyarakat percaya bahwa telur yang ditemukan pasangan suami istri asal Kampung Wawiyai itu adalah telur naga. Anak laki-laki yang muncul dari telur naga tersebut menjadi raja yang bijaksana saat mereka dewasa. Betani menjadi raja di Salawati, Dohar menjadi Raja di Lilinta atau yang sekarang disebut Misool, Mohamad di Waigama, dan War menjadi raja di Waigeo. Bagaimana dengan anak perempuan?

Saudara perempuan dari empat bersaudara itu bernama Pintolee. Suatu saat, ia hilang dan ditemukan tengah menelurkan dua telur lagi. Kakaknya yang mengetahui hal tersebut kemudian menghanyutkan salah satu telur tersebut menggunakan kulit kerang yang besar. Telur yang hanyut tersebut berlabuh di sebuah pulau yang kini bernama Numfor. Sedangkan satu telur lagi menetas menjadi sebuah batu yang diberi nama Kapatnai.

Oleh Suku Kawe, batu itu dianggap seperti raja. Mereka membangun sebuah ruangan untuk meletakkan batu tersebut dengan dua buah batu lain sebagai pengawal. Hingga saat ini, batu tersebut dimandikan setiap tahun dan air mandiannya dianggap suci. Air tersebut kerap digunakan dalam upacara pembabtisan Suku Kawe.

Hantu Raja di Papua Barat

Apakah keempat raja dalam legenda Raja Ampat itu menjadi hantu? Sayangnya kisah Raja Ampat tak berakhir seperti kisah horor populer. Legenda Raja Ampat berakhir bahagia, layaknya orang-orang yang bertandang ke surga Tanah Papua itu. Hantu laut di Raja Ampat memiliki bentukkan yang berbeda.

Hantu memang kerap digambarkan sebagai sosok yang mengerikan. Namun, ada juga yang kisah hantu yang berwujud elok, seperti hantu kandole di Sulawesi Tenggara yang digambarkan sebagai wanita cantik. Di Raja Ampat, hantu laut merupakan fenomena alam yang begitu indah. Masyarakat sekitar menyebut fenomena sunset sebagai hantu laut.

Hantu laut ini bukanlah fenomena mistis melainkan hanya namanya saja untuk memikat wisatawan. Namun, boleh lah setuju dengan pernyataan ‘hantu laut’. Sunset di Raja Ampat sulit ditemukan. Bahkan, sejumlah masyarakat mengatakan bahwa hantu laut yang sesungguhnya hanya bisa terlihat satu tahun sekali. Wah, sama sulitnya seperti mencari The Flying Dutchman, dong?