Harga Minyak Dunia Turun Drastis Dalam Sehari
beritapapua.id - Ilustrasi industri Minyak bumi. (Foto: Okezone)

Harga minyak dunia masih belum stabil akibat perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Kenaikan pun terus terjadi hingga akhirnya Uni Emirat Arab selaku anggota OPEC buka suara. Harga minyak mentah dunia jenis brent bahkan sempat menyentuh angka US$132.70 per barelnya pada tanggal 8 Maret 2022, pukul 00.46 WIB.

Sejak tanggal 9 Maret 2022, pukul 15.00 WIB lalu, harga minyak dunia jenis brent ini mulai mengalami penurunan. Penurunan tersebut masih terus terjadi hingga hari ini, meskipun terkadang naik, namun kenaikan tersebut tidak seekstrim beberapa waktu lalu.

Minyak mentah dunia jenis brent mengalami penurunan hingga US$112.41 per barelnya, berdasarkan data yang diperoleh lewat website Oil Price pada tanggal 10 Maret 2022, pukul 13.16 WIB. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret turun hingga 12,5 persen menjadi US$108,70 per barel.

Penurunan tersebut terjadi karena Uni Emirat Arab menyanggupi untuk meningkatkan produksi minyak mentah ke pasar global. Hal tersebut disampaikan oleh Duta Besar, Uni Emirat Arab, Yousuf Al Otaiba dalam pernyataannya di Washington.

Peran Uni Emirat Arab dalam Memenuhi Kebutuhan Minyak Mentah

Mizuho Bob Yawger mengatakan bahwa Uni Emirat Arab bisa menggantikan sepertujuh pasokan minyak mentah yang hilang dari Rusia. Dia memperkirakan bahwa langkah Uni Emirat Arab mungkin mampu membawa sekitar 800 ribu barel ke pasar dengan sangat cepat.

Baca Juga: 900 Hunian Wisata di KSPN Berhasil Diselesaikan Kementerian PUPR

Penurunan harga minyak juga dipengaruhi oleh para pedagang yang menafsirkan bahwa Irak juga bersedia untuk mengerek produksi minyak mentah jika diperlukan. Sebelumnya, sebagian pelaku pasar mengklarifikasi bahwa mereka melihat kenaikan produksi minyak mentah bulanan OPEC+ cukup untuk mengatasi kekurangan minyak. Namun, pernyataan itu berubah, ketika Sekretaris Jenderal Mohammed Barkindo menuturkan pasokan semakin tertinggal dari permintaan.

Edward Moya selaku Analis Pasar Senior di OANDA mengatakan bahwa sekarang ini dunia sedang bekerja sama untuk mengatasi lonjakan harga minyak di tengah larangan ekspor minyak yang menimpa Rusia.