Harga Produk Pertanian Melambung, Petani Kian Limbung
beritapapua.id - Harga Produk Pertanian Melambung, Petani Kian Limbung - fyassie

Harga Produk Pertanian Melambung, Petani Kian Limbung – Pandemi global covid-19 sudah menunjukkan efek dominonya. Melemahnya perekonomian nasional kemudian mengiringi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal oleh beberapa perusahaan. Ditambah lagi dengan tidak tersedianya pekerjaan bagi para pekerja harian, menjadi kombinasi atas melemahnya daya beli masyarakat.

Melemahnya daya beli masyarakat, akan menghantam kemampuan distribusi produk dari para pelaku usaha. Raksasa-raksasa industri mulai ada yang bertumbangan karena ongkos produksi yang tidak bisa ditutupi. Petani dan peternak pun menjadi sasaran dari keadaan ekonomi ini. Gelagat tak baik ini muncul sejak hari pertama diumumkannya kasus pertama di Indonesia. Pasar kemudian memainkan peranannya yang berakibat ambruknya satu persatu sektor-sektor perekonomian di Indonesia.

Dibatasinya operasional pasar di berbagai daerah turut memberikan kontribusi bagi tidak maksimalnya penyerapan produk holtikultura dan peternakan. Ini menjadi penyebab limbungnya roda perekonomian mereka, selain mandeknya distribusi ke sektor-sektor pariwisata serta food and beverage.

Panen yang terjadwal tak mungkin bisa ditunda hanya karena menurunnya permintaan pasar. Meskipun harga jual telah ditetapkan Kementerian Pertanian, tak sontak membuat para petani tersenyum. Alur penyerapan yang ambruk, rantai distribusi pun terputus. Harga produk yang ditetapkan para tengkulak juga menjadi permasalahan klasik dari waktu ke waktu yang menghantui para petani dan peternak kita. Singkatnya, harga di pasar tidak akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani dan peternak.

Begitu pula dengan peternakan. Ayam petelur menjadi salah satu usaha yang terimbas dari efek melemahnya daya beli, serta mendeknya kegiatan perekonomian dari sektor pariwisata.

Baca Juga: Covid Tak Meluruhkan Makna Ramadan di Sisar Matiti

Sektor Pariwisata Ambruk, Ayam Petelur Mengkerut

Jayanti, salah satu pengusaha ayam petelur di Malang, Jawa Timur mengukapkan ”Sejak diumumkan bahwa ada pasien positif corona di Indonesia, dalam waktu 2 hari, penjualan telur menurun drastis hingga 90%. Ini dikarenakan tempat wisata dan hotel tutup, kemudian restoran, depot, café, dan warung dilarang menerima dine-in. Tentu saja ini mengakibatkan pabrik mie dan roti secara otomatis omzet nya terjun bebas. Padahal usaha-usaha inilah yang selama ini menyedot konsumsi telur dalam jumlah besar.”

Merosotnya nilai tukar rupiah selama masa pandemi mengakibatkan kerugian besar-besaran bagi usaha peternakan ini. Harga pakan yang melambung, tidak diimbangi oleh distribusi produk serta harga jual yang menyesuaikan.

“Melemahnya nilai Rupiah, bahkan sempat menyentuh angka Rp17.000 membuat harga pakan naik ke harga Rp6000-6300 per kg. Dengan harga pakan Rp6.300, modal peternak untuk 1 kg telur adalah Rp22.050. Jadi jika seorang peternak memiliki produksi 500 kg telur saja per hari, maka kerugian dia hari ini Rp2.725.000 per hari,” tandas Jayanti.

Banyak peternak ayam petelur sudah mengibarkan bendera putih, banyak petani yang sudah berserah pasrah. Simbol-simbol ketahanan pangan negeri membutuhkan sebuah solusi jangka pendek dan menengah untuk menjadi stimulus di tengah carut marut ini.

Intervensi Pemerintah Daerah Diperlukan Sebagai Stimulus

Di tengah stagnannya pelbagai aktivitas ekonomi nasional, ada beberapa daerah yang bisa menjadi percontohan untuk diimplementasikan dengan modifikasi yang diperlukan. Dimana dengan itu, roda perekonomian rakyat khususnya di kalangan petani dan peternak bisa terus berjalan.

Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat telah menginisiasi giat ekonomi daerah sebagai bentuk subsidi pangan bagi masyarakat. Hasil pertanian lokal hasil kebun Mama-Mama Papua dibeli oleh pemerintah daerah, untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Pembelian hasil kebun dan tani tersebut, dimaksudkan untuk kembali didistribusikan kepada masyarakat sebagai subsidi pangan. Hal ini menyusul pembagian sembako yang telah dilakukan sebelumnya oleh pemda.

Dimulai dengan adanya gerakan sayur online oleh beberapa pemuda Teluk Bintuni untuk mendistribusikan hasil tani dan kebun mama Papua kepada masyarakat secara online. Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni kemudian melihat hal ini sebagai salah satu solusi jangka pendek yang menjangkau langsung masyarakat dan petani.

Dengan begitu, sirkulasi hasil produksi pertanian serta kebutuhan masyarakat di tengah pandemi akan terus berjalan. Beberapa daerah kemudian melakukan hal yang sama, ini merupakan sentimen bagus sebagai stimulus yang diperlukan oleh petani dan peternak Indonesia di tengah pandemi covid-19.