Hasil Panen Mama Papua, Untuk Masyarakat Bintuni
beritapapua.id - Stocking point hasil kebun mama Papua pada gerakan pasar online. Foto: Yohanes Akwan

Hasil Panen Mama Papua, Untuk Masyarakat Bintuni – Adanya imbauan dari Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni kepada masyarakat untuk melakukan social distancing atau jaga jarak fisik, serta pembatasan kegiatan pasar dan yang berpotensi mengumpulkan massa, tidak berarti kegiatan perkebunan yang selama ini dilakukan oleh mama-mama Papua ikut mandek bersama imbauan pemerintah tersebut.

Hasil kebun berupa Singkong (Kasbi), Ubi jalar (Betatas), Keladi dan Jagung yang biasanya menjadi tumpuan hidup para petani, dalam hal ini yang biasanya akrab dikenal dengan mama-mama Papua masih harus terus berjalan seperti biasanya.

Kesulitan pemasaran hasil panen kebun karena adanya pembatasan kegiatan akibat pandemi Covid-19, menjadi permasalahan daerah. Permasalahan tersebut harus bisa dilokalisir dan dicari solusinya. Mandeknya kegiatan berkebun oleh mama-mama Papua bisa menimbulkan efek terputusnya mata rantai distribusi ke masyarakat juga. Terutama di daerah dengan kultur bertanam yang kurang atau tidak ada sama sekali.

Kegiatan pasar online yang digagas oleh Luky Marani dan pemuda Papua lainnnya dengan melakukan piling stock atau penumpukan hasil. Penumpukan hasil dilakukan untuk didistribusikan melalui jasa layan antar. Hal tersebut merupakan solusi jangka pendek yang tidak menyentuh masalah makro. Kecuali gerakan tersebut akan berkembang secara masif dan terorganisir di seluruh Teluk Bintuni. Dimana gerakan ini  akan memakan sumber daya yang besar, menguras energi, dan  mungkin butuh usaha yang lebih dari sekadar swadaya masyarakat.

Baca Juga: Bupati Kasihiw Apresiasi Gerakan Pasar Online di Tengah Covid-19

Perlu Campur Tangan Pemerintah Daerah

Ide kreatif lain muncul dari aktivis dan pemerhati masalah sosial di Teluk Bintuni, Papua Barat, Ari Murti dan Yohanes Akwan. Ide ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemungkinan terjadinya krisis pangan jika pandemi covid-19 ini tak kunjung mereda.

Hasil kebun dari mama-mama Papua tak harus berhenti ketika pasokan tidak dapat didistribusikan kepada pelanggan atau pembeli dengan maksimal. Pemerintah bisa membeli hasil kebun ini untuk kemudian diolah lagi dengan menggandeng Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di Teluk Bintuni.

Kasbi dan jagung sebagai bahan pangan yang gampang ditanami, dapat diolah masing-masing menjadi beras jagung dan beras kasbi. Kemudian, hasil olahan tersebut dapat menjadi sumber karbohidrat dan gizi tinggi.

Lidah masyarakat Teluk Bintuni yang familiar dengan hasil kebun tersebut, bisa menjadi entry point untuk memperkenalkan modifikasi pangan baru, bagi masyarakat yang belum terlalu mengenalnya.

Beras padi dan beras kasbi contohnya, dapat menjadi kombinasi yang dijual dengan harga yang jauh lebih murah dari harga beras. Dengan siasat seperti ini, pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat di tengah pandemi masih bisa tercukupi. Tentunya dengan ongkos produksi dan harga jual yang lebih murah juga.

Beras-beras jatah ASN di lingkungan pemerintah daerah juga bisa disubtitusikan dengan kedua jenis sumber karbohidrat tersebut.

Kebijakan untuk menutupi kemungkinan terputusnya rantai distribusi hasil kebun mama-mama Papua ini, bukan hanya akan meningkatkan hasil panen dan stabilisasi harga jual, namun juga memaksimalkan sumber daya manusia pada koordinasi UMKM, yang akan menggeliatkan kembali perekonomian daerah di tengah pandemi Covid-19.