Hilangnya Harun Masiku dan Mencuatnya Nama Hasto
beritapapua.id - Hilangnya Harun Masiku dan Mencuatnya Nama Hasto - katadata.co.id

Sejak bergulirnya kasus Harun Masiku pada awal bulan Januari lalu hingga kini belum menemukan titik terang. Terhitung sudah lebih dari 30 hari Harun Masiku tidak diketahui keberadaannya.

Harun Masiku merupakan mantan calon anggota legislatif dari partai PDIP dengan daerah pemilihan Sumatera Selatan I. Dia telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan suap kepada mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan.

Kasus tersebut mencuat saat KPK sedang menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 8 Januari 2020 lalu. Pada saat itu Harun lolos dan KPK hanya berhasil menangkap Wahyu Setiawan bersama tujuh orang lainnya.

Menurut keterangan KPK, Harun diduga memberikan suap ke Wahyu Setiawan agar bisa ditetapkan sebagai anggota DPR menggantikan Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Dalam suap tersebut, diketahui uang sejumlah Rp900 juta diberikan oleh Harun untuk memuluskan jalannya ke Senayan.

Namun sejak OTT dan penetapan tersangka, Harun lantas menghilang hingga saat ini. KPK pun meminta agar Harun menyerahkan diri.

Perlu diketahui kasus ini berawal dari meninggalnya calon legislatif PDIP Nazarudin Kiemas pada 26 Maret 2019. Pada saat itu Nazarudin Kiemas merupakan caleg Dapil Sumatera Selatan I dengan dua nama lainnya yaitu Riezky Aprilia dan Harun Masiku.

Berdasarkan Pasal 9 jo 5 Peraturan KPU Nomor 6 Tahun 2017 tentang Pergantian Antar Waktu (PAW) disebutkan jika ada seorang calon anggota legislatif dari partai yang sama yang meninggal dunia maka perolehan suaranya diberikan kepada urutan terbanyak berikutnya.

Dengan dasar peraturan tersebut, KPU lantas menunjuk nama Riezky Aprilia sebagai anggota DPR terpilih karena memiliki suara terbanyak kedua.

Baca Juga: Pemerintah Puncak Menyediakan Anggaran Besar Bagi Pendidikan

Lalu mengapa Harun Masiku sampai sekarang tidak ditemukan?

Ada dugaan yang muncul terkait hal ini. Dugaan paling kuat yaitu Harun sengaja “dihilangkan karena kasusnya turut melibatkan petinggi partai PDIP.

Perlu diketahui, sebelum Harun menyuap Komisaris KPU Wahyu Setiawan ia sudah mendapat Surat Rekomendasi dari pimpinan agar menjadi anggota DPR menggantikan Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia lewat PAW.

Surat tersebut dikeluarkan oleh petinggi partai PDIP salah satunya adalah Sekjen PDIP, Hasto Kristianto. Ia pun mengakui telah menanda tangani surat tersebut. Akan tetapi surat rekomendasi tersebut ditolak oleh KPU karena tidak sesuai dengan PKPU Nomor 6 Tahun 2017.

“Kalau tanda tangannya betul. Karena itu sudah dilakukan secara legal,” kata Hasto di Arena Rakernas PDIP, JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat. Minggu 12 Januari 2020

Permohonan PAW dari PDIP ini diwarnai suap yang membuat Komisioner KPU Wahyu Setiawan ditetapkan sebagai tersangka. Selain itu, kasus ini pun sempat membuat keributan antara Imigrasi dengan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

Hal tersebut dikarenakan pada tanggal 6 Januari Harun tercatat dalam data perlintasan terbang ke Singapura. Namun pada tanggal 7 Januari, Majalah TEMPO mengungkapkan bahwa Harun telah kembali ke Indonesia berdasarkan keterangan dari istrinya, Hildawati Jarmin.

Akan tetapi saat dikonfirmasi, pihak Imigrasi dan Kemenkumham tidak mengetahui hal tersebut. Hingga akhirnya pada tanggal 22 Januari atau 15 hari sejak kedatangan Harun, Imigrasi mengonfirmasi bahwa Harun telah kembali ke Indonesia pada tanggal 7. Pihaknya berdalih baru bisa mengonfirmasi karena adanya kerusakan sistem sehingga data perlintasan Harun tidak masuk ke data pusat informasi.

Akibat kejadian tersebut Dirjen Kemenkumham, Ronnie Sompie dicopot dari jabatannya oleh Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly.

Lalu mungkinkah Harun tertangkap setelah satu bulan lebih tidak diketahui keberadaannya? Atau mungkinkah Harun sengaja “dihilangkan” agar dugaan keterlibatan Hasto dalam kasus tersebut tidak terungkap.