Hitam-putih Pulau Babo
beritapapua.id - Hitam putih Pulau Babo - R.eezz.a

“Pulau Babo merupakan salah satu pulau bersejarah yang terletak di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Dahulu, peradaban Babo pernah maju. Dahulu…”

Pulau Babo merupakan salah satu pulau yang terletak di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Dari Teluk Bintuni ke Pulau Babo memerlukan waktu sekitar 2 sampai 4 jam, tergantung kapal apa yang digunakan. Distrik Babo menyimpan banyak cerita. Mulai dari eksplorasi minyak yang dilakukan oleh Belanda pada tahun 1935, perang antara Jepang dan Sekutu pada tahun 1940-an, hingga kepiting Distrik Babo yang terkenal. Hingga kini, Distrik Babo ramai dikunjungi wisatawan.

Baca Juga: Prangko Edisi Musisi Tanah Air Pada Peringatan Hari Musik Nasional

Catatan Perjalanan Harun Awang Satyana

Menurut catatan perjalanan Harun Awang Satyana yang dipublikasikan oleh salah seorang peneliti, tercatat sebuah kisah eksplorasi minyak yang dilakukan oleh Belanda, serta dampaknya pada masyarakat Sekitar. Harun Awang Satyana merupakan salah seorang tenaga ahli SKK Migas yang dulu pernah bertugas di Babo. Ia mengungkap kala Nederlandsche Nieuw-Guinee Petroleum Maatschappij (NNGPM) menjadikan Distrik Babo sebagai base-camp eksplorasi Belanda di Papua Barat. Melalui eksplorasi NNGPM ini kemudian Papua Barat mulai dipetakan. Eksplorasi NNGPM juga digadang sebagai sebab masuknya berbagai fasilitas ke Babo.

Sebagai base camp, tentu NNGPM memiliki kantor dengan segala fasilitasnya. Menurut catatan tersebut, selain kantor NNGPM, di sana juga dibuat aerodrome, hanggar, perbengkelan, lapangan golf, hingga bioskop. Bahkan di Distrik Babo pada tahun itu, yakni 1930-an, terdapat sebuah bioskop di Babo. Catatan tersebut pula mengungkap sebuah fakta bahwa banyak masyarakat lokal yang bekerja sebagai tenaga kerja bongkar muat (TKBM) untuk mengangkut barang-barang dari kapal yang berlabuh di sana. Mereka bekerja pada Tuan Merah, sebutan warga lokal bagi orang Belanda.

Pada tahun 1940, peradaban di Babo berubah drastis. Catatan yang dituliskan oleh Wahyu Budi Setyawan, Peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, mengungkap akhir peradaban di Babo. Tahun itu Perang Pasifik pada bulan Desember tahun 1941 pecah. Dampaknya hingga ke Babo di mana bom yang dijatuhkan oleh pesawat tempur tentara Jepang menghujani distrik Babo. Segala fasilitas yang dibangun oleh NNGPM Belanda pun luluh lantah, begitu pula tempat tinggal masyarakat Babo. Markas Besar Belanda di Batavia meminta agar perempuan dan anak bangsa Eropa dievakuasi ke Jawa. Bagaimana dengan masyarakat Babo?

Bilamana terdapat fasilitas bioskop dan lapangan golf, Perang Pasifik di bulan Desember tahun 1941 itu merubah semuanya. Tidak ada lagi nonton bersama, tidak ada lagi senda gurau. Itu untuk mereka, karyawan NNGPM. Bagaimana dengan masyarakat Babo? Hingga kini, rumah sakit pun tak tersedia. Melalui catatan Harun Awang Satyana kita mengetahui Babo pernah memiliki peradaban yang maju. Bagaimana sekarang?