Hubungan antara Rusia dan Ukraina Masih Memanas, Bagaimana Perundingan Damainya?
beritapapua.id - Perundingan Rusia dan Ukraina di perbatasan Belarusia (Foto: AP/Sergei Kholodilin)

Pada hari Minggu, tanggal 13 Maret 2022 kemarin, Serangan Rusia ke Ukraina makin menjadi-jadi. Pada hari tersebut, Rusia dikabarkan membombardir sebuah situs di kota Lviv, yang berlokasi dekat dengan perbatasan Polandia, negara NATO.

Ada setidaknya 30 rudal yang telah ditembakan ke pangkalan milier Pusat Keamanan dan Perdamaian Internasional (IPSC). IPSC merupakan tempat pelatihan khusus tentara Ukraina untuk misi penjaga perdamaian. Rudal tersebut ditembakkan dari pesawat tempur milik Rusia di atas Laut Hitam dan Laut Azov.

Pasukan Rusia juga dikabarkan berlokasi semakin dekat ke pusat ibu kota Ukraina, Kyiv. Berdasarkan hasil laporan Kementerian Pertahanan Inggris, tentara Moskow sudah berada di jarak 25 KM.

Beberapa kota-kota penting seperti Kharkhiv, Mariupol, Mykolaiv, Dnipro, Chernihiv dan Sumy juga masih terus digempur Rusia. Citra satelit di kota Mariupol menunjukkan, bahwa terjadi kerusakan dan kebakaran di gedung apartemen dan pompa bensin yang berlokasi di kota tersebut. Selain itu, dilaporkan sebuah bandara di kota Ivano-Frankivsk, Ukraina barat, infrastrukturnya hampir hancur total akibat serangan udara yang dilakukan oleh Rusia.

Perkembangan Perundingan Damai

Negosiasi antara kedua negara tersebut masih terus dilakukan. Delegasi Ukraina dan Rusia kembali mengadakan perundingan di hari Senin, 14 Maret 2022 lalu, terkait dengan pembahasan dan pembuatan poin-poin baru mengenai gencatan senjata.

Baca Juga: Larangan Perjalanan ke China Picu Penurunan Harga Minyak Dunia

Dilansir dari CNBC Indonesia, Penasihat Presiden Ukraina Mykhailo Podoliak mengatakan perundingan kali ini akan dilakukan via tautan video. Ini sedikit berbeda karena pertemuan sebelumnya dilakukan dengan pertemuan langsung

Perundingan damai telah tercatat tiga kali dilakukan oleh kedua negara. Namun masih belum menemukan titik terang dan gagal dalam menyepakati hal-hal terkait penghentian perang. Di dalam perundingan tersebut hanya disepakati beberapa poin tentang gencatan senjata sementara untuk tujuan evakuasi.

Rusia telah bertekad untuk terus menyerang Ukraina hingga tujuannya tercapat. Presiden Rusia, Vladimir Putin menyebutkan bahwa mereka akan memaksa Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky untuk tidak memihak ke NATO serta mengakui pencaplokan Krimea.