Hukum Menggabung Puasa Syawal dengan Puasa Sunnah Lainnya
beritapapua.id - ilustrasi puasa (foto : istimewa)

Hukum Menggabung Puasa Syawal dengan Puasa Sunnah Lainnya – Tak terasa bulan puasa sudah berakhir. Namun, bukan berarti pintu pahala dan rahmat telah tertutup. Setelah bulan Ramadhan, kini bulan Syawal hadir. Sebuah bulan dengan keutamaan yang luar biasa.

Salah satu tanda berhasilnya puasa kita adalah amalan sunnah yang terus berlanjut setelah Ramadhan. Bahkan, dalam konteks puasa, kita bisa meneruskannya dengan puasa sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadis Qudsi,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Bahwa, ada suatu amalan yang nilainya menyerupai puasa setahun penuh. Itu adalah puasa sunnah 6 hari pada bulan Syawal. Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Oleh karenanya, jangan sampai melalaikan amalan ini. Dalam kitab Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, puasa Syawal menggenapkan amalan puasa kita menjadi 1 tahun. Ini karena amalan puasa Ramadhan layaknya berpuasa 10 bulan. Kemudian, amalan bulan Syawal bagaikan puasa 2 bulan.

Jika menggabung dua amalan tersebut, maka kita seakan puasa 12 bulan atau 1 tahun.

Lantas, bolehkah kita menggabung puasa sunnah lain dengan puasa Syawal?

Bayar Hutang Puasa Dulu, Baru Puasa Syawal

Mengacu pada Syarhul Mumthi’, kita wajib membayar hutang puasa Ramadhan sebelum puasa sunnah Syawal. Makna hutang puasa adalah puasa Ramadhan yang bolong atau batal karena suatu hal.

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barang siapa lupa salat atau tertidur hingga meninggalkan shalat, maka tebusannya adalah melaksanakan shalat tersebut ketika ia ingat,” (HR Muslim).

Hal ini karena suatu yang sunnah tak bisa menggantikan yang wajib. Meskipun dalam hadis tersebut membahas soal salat, namun juga berlaku pada puasa.

Baca Juga : 2 Prajurit TNI Gugur Usai Dianiaya 20 Orang Tak Dikenal

Bagaimana dengan menggabungkan puasa Senin-Kamis dan puasa Syawal? Jika seperti ini maka hukumnya boleh. Hal ini mengacu pada kitab syru Masail fi Shaum Sitt min Syawal karya Dr. Abdul Aziz ar-Rais. Beliau menyebut,

إذا اتحد جنس العبادتين وأحدهما مراد لذاته والآخر ليس مرادا لذاته؛ فإن العبادتين تتداخلان

“Jika ada dua ibadah yang sejenis, yang satu maqsudah li dzatiha dan satunya laisa maqsudah li dzatiha, maka dua ibadah ini memungkinkan untuk digabungkan.” (hlm. 17).

Selanjutnya, syarat menggabung 2 amalan adalah sama jenisnya. Maksudnya, apakah amalan tersebut sama-sama sunnah dan amalan yang sama. Misalnya, sama-sama puasa sunnah.

Kemudian, amalan tersebut juga tergantung oleh niat kita. Sebagaimana hadis dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (Muttafaq ’alaih)

Dengan demikian, menggabungkan puasa pun ada kaidahnya. Sesama puasa sunnah boleh kita gabungkan. Sedangkan dengan yang wajib tidak boleh. Oleh karenanya, tidak boleh menggabung niat puasa Syawal dengan puasa pengganti Ramadhan.

Namun, boleh menggabung puasa Syawal dengan puasa Senin-Kamis. Selamat berpuasa sunnah!