Humor Gus Dur : Polisi Tidur, Patung Polisi dan Jenderal Hoegeng
Ilustrasi humor Gus Dur

Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berseloroh, “polisi yang jujur itu ada tiga, yaitu polisi tidur, patung polisi dan Jenderal Hoegeng.” Candaan Alm Gus Dur ini mungkin kerap kita dengar, ketika kepolisian mulai dibicarakan khalayak ramai.

Bukan tanpa alasan, praktik suap menyuap di tubuh institusi ini sering kita temui. Ambil saja contoh dari kasus paling sederhana: tilang. Berapa kali kita dihadapkan pada pengalaman ini? Begitu pula kejadian seperti ini sering diviralkan melalui dokumentasi sipil atau melalui media sosial.

Selain itu bukan hanya praktik ini yang menjadi perhatian dari masyarakat. Dari beberapa kejadian yang terekam, terkadang kepolisian terkesan mengupayakan tindakan yang represif pada saat pengamanan sebuah situasi.

Polisi, seharusnya menjadi institusi yang melindungi dan melayani masyarakat. Namun kejadian demi kejadian, membuat masyarakat kembali memikirkan nilai ini. Polisi seakan menjadi momok.

Seperti kejadian yang terjadi pada Jumat (23/4) di Purworejo, Jawa Tengah. Dicuitkan oleh akun twitter @GUSDURians, terlihat tindakan represif kepolisian ketika mengamankan demo damai yang dilakukan oleh sekelompok ibu-ibu.

Terlihat aparat kepolisian menyeret paksa seorang pendemo yang sedang mencoba untuk menenangkan salah satu rekanannya. Sontak video ini memicu reaksi keras dari netizen. Polisi dianggap terlalu represif. Padahal yang dihadapi adalah sekelompok pendemo yang terdiri dari perempuan.

Gus Dur : Polisi Jujur dan Awal Dibentuknya Kepolisian

Kepolisian Indonesia memang sedang berbenah. Segala upaya sedang dilakukan untuk memperbaiki citranya di mata masyarakat Indonesia. Tapi, paling tidak, kita pernah mengenal Jenderal Hoegeng Imam Santoso.

Jenderal Hoegeng adalah Kepala Kepolisian Republik Indonesia yang ke lima. Kejujuran dari Jenderal Hoegeng memukau masyarakat hingga Alm Gus Dur menyanjungnya sebagai satu-satunya sosok polisi yang jujur di Indonesia.

Baca Juga : Ulasan Lengkap : Sejarah Nanggala-402, Selamat Tinggal Para Pahlawan

Padahal institusi ini awalnya terbentuk, merupakan pemantik dari euforia nasionalisme masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Secara resmi, pada tahun 17 Agustus 1945, Kepolisian Indonesia menjadi kepolisian yang merdeka. Terlepas dari segala embel-embel kepolisian yang berada di bawah pemerintahan penjajah kala itu, yakni Jepang.

Dengan melucuti senjata tentara Jepang yang kalah pada perang, kepolisian merupakan institusi yang berhasil membangkitkan moral rakyat Indonesia. Semangat nasionalisme berkobar kala itu.

Apakah kepolisian negara ini masih mampu memperbaiki citra mereka, di tengah luapan kasus korupsi dan kekerasan yang berkecamuk? Kita lihat saja kiprah mereka sebagai pengayom dan pelindung masyarakat ke depannya.