Potensi Hutan Mangrove di Kabupaten Teluk Bintuni
Potensi Hutan Mangrove di Kabupaten Teluk Bintuni

Tahun 1980 hutan mangrove di Kabupaten Teluk Bintuni diusulkan oleh WWF untuk masuk dalam cagar alam. Dalam pengembangan cagar alam, daerah ini masuk dalam kawasan strategis sesuai Undang-Undang Tentang Penataan Ruang yaitu Undang-Undang Nomor 26/2007. Dengan ditingkatkan pembangunan berbasis konservasi, sebab mangrove penting bagi perdagangan karbon. Sebanyak 1,4 hektare dari luas hutan mangrove di Bintuni dikembagkan menjadi kawasan ekowisata.

Masyarakat adat di pesisir pantai Teluk Bintuni hidup dari hutan mangrove yang mempunyai manfaat ekonomi dan ekologi. Misalnya menjaga garis pantai, dan tempat hidup biota laut, seperti kepiting, udang, ikan, kerang, ulat tambelo. Bisa dikatakan, hutan mangrove bermanfaat untuk menunjang mata pencaharian masyarakat.

Baca Juga: Kesehatan dan Keselamatan Psikologis dan Sosial Pekerja

Manfaat Hutan Mangrove

Kawasan mangrove Teluk Bintuni mengemukakan manfaat tanaman dari hutan mangrove antara lain:

  1. Avicennia Marina (nama lokal pai), daunnya untuk sayur, makanan koloni kumbang penghasil madu, dan sebagai bahan baku pembuatan sabun cuci,
  2. Avicennia Gymnorrihiza (nama lokal sarau) kayunya bermanfaat untuk arang bakar, Kulitnya menambah rasa pada makanan (missal ikan bakar),
  3. Bruguiera Sexangula (nama lokal sarau) daunnya mengandung alkaholid dapat mengobati tumor kulit, akarnya untuk menyan, buahnya untuk campuran obat cuci mata,
  4. Ceriops Tagal (nama lokal parum), bermanfaat sebagai bahan pewarna dan pengawet jala-jala ikan dan untuk industri batik, kayunya untuk industri kayu lapis dan kulit batang untuk obat.

Mereka juga mengumpulkan tanaman obat dari ekosistem bakau dan menggunakan daun bakau sebagai pakan ternak. Baru-baru ini, hutan bakau juga telah dipanen untuk produksi pulp, serpihan kayu, dan arang. Tumbuhan ini banyak ditumbuhi jamur. Mangrove yang lapuk biasanya digunakan warga sebagai tempat untuk ditumbuhi jamur yang dapat dikonsumsi. Bahkan tumbuhan lain seperti anggrek hutan juga tumbuh dan memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Masyarakat Teluk Bintuni umumnya berprofesi sebagai nelayan, sehingga Hutan Bakau di Kabupaten Teluk Bintuni yang tumbuh di daerah pesisir, merupakan area sumber mata pencarian para nelayan untuk menangkap ikan.

Mangrove dalam Bahasa Wamesa sering disebut Parai, karena tumbuhannya kuat dan awet sehingga dengan adanya tumbuhan mangrove di Teluk Bintuni ini berfungsi sebagai pencegah Erosi Pantai.