Ia, Binatang Jalang yang Geram dari Karawang
Chairil Anwar (foto : istimewa)

Potret seorang pemuda kurus sedang merokok dalam gambaran siluet yang monokrom adalah simbol ‘Si Binatang Jalang’. Siapa tak kenal Chairil Anwar? Pujangga abadi dengan karya-karya yang tak lekang zaman.

Pada tanggal 28 April 1949, ajal memanggilnya di RSCM, Jakarta. Hingga kini, tak seorang pun bisa mengkonfirmasi apa penyakitnya. Namun kematian masa belia, sudah ia kira, tertuang dalam tulisannya.

Jang Terampas dan Jang Putus

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang dimana dia yang ku ingin.
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu.
Di Karet, di Karet, sampai juga deru, dingin.
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang.
Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu,
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang.
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Seperti yang dinyatakan sebelumnya pada usia muda, umur 26 tahun ia mengenal dunia. Dalam hal ini puisi-puisinya mengandung sarat amarah dan kematian. Gambaran seni seorang pujangga, lihat saja puisinya yang pertama.

Nisan

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak ku tahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.
Oktober, 1942 – Chairil Anwar

Lebih lanjut pujangga itu, si binatang jalang dari kumpulan terbuang. Saksi dari betapa brutalnya pembantaian, dari Bekasi hingga Karawang. Ribuan nyawa meregang di Rawagede tahun 1947, untuk alasan ini kemarahan dan ketakutannya bercampur, meluap di pelariannya, dalam tulisan ia melantun.

Karawang – Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Karawang – Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayarang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskanlah jiwa kami

Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang – Bekasi

Bahkan ia adalah pujangga yang hampir tak kenal cinta. Kepada Sri Ayati ia menaruh hati. Namun semua ia pendam dalam-dalam, hingga ajal menjelang, tak kunjung ia nyatakan.

Tertaut juga kehidupannya pada seorang wanita, yang bernama Hapsah Wiraredja. Tak ada yang tahu, apakah pernikahannya karena cinta? Ataukah sebaliknya yang asal sekadar ada. Karena pada tahun 1948, selang pernikahan yang singkat, mereka memutuskan untuk berpisah.

Baca Juga : Belajar Dari India yang Sulit Untuk Bernapas Akibat Covid-19

70 puisi karya peninggalan semasa hidupnya, kebanyakan tidak ia terbitkan hingga kematiannya. Hingga pada tahun 1949, Pustaka Rakyat menerbitkan kumpulan atau kompilasi karya Chairil Anwar, yang bernama ‘Deru Campur Debu’

Selamat jalan pahlawan, hasil dari tinta yang kau alurkan pada selembar kertas yang telah mengering, akan menjadi pengingat bagi kami, untuk bisa menengokmu lebih sering.