Salat Witir
Ini yang Terjadi Jika Sering Melalaikan Salat Witir

Banyak anggapan bahwa salat witir hanya ada pada bulan Ramadhan saja. Atau, banyak yang melakukannya hanya pada bulan puasa tersebut. Padahal, salat witir merupakan salah satu salat sunnah yang Nabi sendiri pelihara.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu anhu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً، فَحَافِظُوْا عَلَيْهَا، وَهِيَ اَلْوِتْر

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi kalian tambahan shalat, maka peliharalah dia, yaitu salat witir.”

Salat witir, dengan dalil tersebut memiliki posisi yang cukup penting sebagai sebuah salat sunnah. Meskipun berhukum sunnah, namun Rasul menyebut salat witir adalah salat sunnah muakkadah. Artinya, agama sangat menganjurkan ibadah ini bahkan merupakan sunnah yang mendekati wajib.

Baca juga: Dampak Pandemi di Bulan Ramadan Bagi Umat Islam Indonesia

Hal tersebut mengacu pada sabda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam,

 اَلْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَل

“Shalat witir adalah hak atas setiap Muslim. Barangsiapa yang ingin berwitir dengan lima raka’at, maka lakukanlah; barangsiapa yang ingin berwitir dengan tiga raka’at, maka lakukanlah; dan barangsiapa yang ingin berwitir dengan satu raka’at, maka lakukanlah.”

Hukum ini berdampak pada perilaku sering melalaikan salat witir. Jika terlalu sering meninggalkannya maka boleh jadi persaksiannya sebagai muslim tertolak. Pernyataan ini terdapat dalam dalam Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

DalamSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebut orang yang terlalu sering meninggalkan salat witir menunjukkan sedikitnya (pemahaman) agamanya. Bahkan persaksiannya ditolak (tidak diterima).

Imam Ahmad rahimahullah pun berpendapat serupa. Imam Ahmad rahimahullah sampai berkata bahwa muslim yang rutin meninggalkan witir merupakan muslim yang jelek,

مَنْ دَاوَمَ عَلَى تَرْكِ الوِتْرِ فَهُوَ رَجُلٌ سُوْءٌ يَنْبَغِي أَنْ لاَ تُقْبَلَ شَهَادَتُه

“Siapa yang rutin meninggalkan shalat witir, maka ia dicap orang yang jelek, juga persaksiannya tak pantas diterima.” (Lihat Syarh Umdatil Ahkam karya Syaikh As Sa’di, hal. 220).

Manfaat dan Panduan Waktu Salat Witir

Baca juga: Meraih Keutamaan di Waktu Setelah Sahur

Lantas, mengapa menjaga salat witir begitu penting? Salah satunya adalah, Allah ta’ala mencintai hambanya yang salat witir. Bayangkan, sebuah amalan sunnah yang begitu ringan mampu membawa kasih sayang Allah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi,

يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوْا فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Wahai Ahlul Qur’an, shalat witirlah kalian karena sesungguhnya Allah azza wa jalla itu witir (Maha Esa) dan mencintai orang-orang yang melakukan shalat witir.”

Hadis tersebut menunjukkan bagaimana besarnya manfaat dalam salah sunnah yang begitu ringan ini. Saking ringannya, salat witir boleh hanya satu rakaat saja jika sudah menjelang subuh atau fajar. Seperti itu sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar)

Baca juga: Memilih Memakai Masker atau Akan Terkena Denda!

Ulama sepakat bahwa waktu pelaksanaan salat witir adalah setelah isya hingga terbit fajar. Artinya, boleh melakukan salat witir pada waktu tersebut baik sebelum tidur maupun sesudah tidur. Namun, salat pada akhir malam lebih utama sebagaimana sabda Nabi,

أَيُّكُمْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ ثُمَّ لْيَرْقُدْ وَمَنْ وَثِقَ بِقِيَامٍ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِهِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَل

“Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia witir dan baru kemudian tidur. Dan siapa yang yakin akan terbangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena bacaan di akhir malam dihadiri (oleh para Malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim no. 755)