Insider Trading dalam Pasar Modal Indonesia
beritapapua.id - Insider Trading dalam Pasar Modal Indonesia - foundationsoflawandsociety

Insider Trading dalam Pasar Modal Indonesia – Dalam suatu perdagangan saham, informasi memegang peranan yang sangat penting dan dominan bagi sebuah industri pasar. Sebagai komoditi perdagangan, harga saham dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran.

Suatu bursa efek dapat dikatakan efisien apabila memenuhi dua kriteria yaitu, harga saham mencerminkan semua informasi yang relevan saat itu dan informasi menyebar secara merata, maka reaksi harga terhadap informasi baru, terjadi seketika karena semua pemain pasar modal telah memiliki antisipasi yang cukup. Namun dalam dunia perdagangan pasar modal, mungkin saja malah terjadi hal yang sebaliknya. Yaitu apabila praktik perdagangan saham tersebut menggunakan informasi yang belum terbuka untuk umum atau tidak menyebar secara merata, untuk digunakan beberapa pihak yang terkait dengan perdagangan saham tersebut guna mengambil keuntungan pribadi yang kemudian dikenal dengan Insider Trading yang merupakan salah satu pelanggaran di Pasar Modal.

Apa itu Insider Trading?

Insider Trading adalah suatu kejahatan di Pasar modal yang sangat sulit untuk dibuktikan, bahkan di negara yang sudah maju sekalipun. Tidaklah mudah untuk membawa pelaku kejahatan ini kedalam peradilan pidana. Hal ini terkait dengan sulitnya pembuktian atau praktik kejahatan tersebut. Pada praktik Insider Trading ini, kepemilikan informasi yang dinilai sebagai informasi yang eksklusif akan menempatkan si pemilik informasi eksklusif tersebut pada posisi yang diuntungkan. Apabila berdasarkan tersebut orang yang bersangkutan kemudian melakukan transaksi efek, maka akan menimbulkan ketidakadilan di lantai bursa.

Suatu perdagangan efek dapat tergolong sebagai praktik Insider Trading apabila memenuhi unsur minimal yaitu: adanya orang dalam, informasi material yang belum tersedia bagi masyarakat atau belum disclose dan orang dalam tersebut melakukan transaksi karena informasi material.

Insider Trading merupakan salah satu bentuk dari transaksi efek yang dilarang,  karena selain menimbulkan ketidakadilan dalam penerimaan informasi yang hanya dimiliki oleh pihak tertentu saja serta mempunyai akses dengan orang dalam, juga tidak menunjang adanya transaksi efek yang efisien, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan ketidakpercayaan investor terhadap pasar modal dan berakibat investor tersebut akan mengalihkan investasinya pada bentuk lembaga pembiayaan lainnya.

Alasan Dilarang

Pertama, mekanisme pasar yang tidak fair dan tidak efisien, baik pembentukan harga, perlakuan diantara pelaku pasar, maupun kelangsungan pasar modal. Kedua, berdampak negatif bagi emiten. Sebab dengan adanya Insider Trading, pihak investor akan hilang kepercayaannya terhadap emiten itu sendiri. Ketiga, kerugiaan materiil bagi investor. Sebab pihak investor akan mengalami kerugian secara langsung. Padahal, perlindungan publik selalu menjadi fokus pengaturan hukum pasar modal. Keempat, dimanfaatkannya informasi material perusahaan tersebut untuk memperoleh keuntungan pribadi. Padahal informasi rahasia itu miliknya perusahaaan sesuai dengan asas pengakuan hak milik intelektual.

Konstruksi hukum pasar modal Indonesia sehubungan dengan peraturan Insider Trading telah menunjukkan konstruksi hukum yang kurang lengkap dan menyeluruh untuk mencegah terjadinya praktik-praktik Insider Trading dalam transaksi sekuritas di pasar modal di Indonesia. Hal ini dikarenakan Peraturan Insider Trading di dalam pasar modal Indonesia tidak mampu untuk menjangkau dan menentukan pelaku-pelaku.

Seperti pihak lain di luar perusahaan yang menggunakan non-public information dalam transaksi sekuritas si pasar modal Indonesia. Penyalahgunaan dalam menentukan pelaku-pelaku praktik Insider Trading, yang tidak terbatas pada larangan Insider Trading. Tetapi termasuk siapapun yang menggunakan informasi material milik perusahaan yang belum diumumkan kepada publik dalam transaksi sekuritas di pasar modal Indonesia. Peraturan larangan Insider Trading yang didasarkan pada teori penyalahgunaan belum diatur dalam perturan-peraturan Pasar Modal di Indonesia.