Inspirasi Rumah Tinggal Papua yang Terjaga
Inspirasi Rumah Tinggal Papua yang Terjaga

Inspirasi Rumah Adat Papua yang Terjaga – Papua meninggalkan sejuta kenangan yang sepertinya sulit untuk ditemukan di tempat lain. Bagi para pendatang atau siapapun yang  pernah  tinggal dan hidup di Papua untuk beberapa waktu tentu saja menjadikan hal tersebut adalah pengalaman seumur hidup yang layak untuk selalu dikenang. Bisa jadi karena terbatasnya akses, atau karena sebuah ketakjuban akan bumi, alam, dan interaksi sosial yang dirasakan.  Papua kemudian bisa menjelma menjadi apa saja, di mana saja, dan di bawa oleh siapa saja yang memiliki ikatan khusus pada tanah Cendrawasih tersebut.

Salah satunya sebuah resort di Ubud, Bali. Resort yang berlokasi di Banjar Tegallantang ini berbentuk 6 bangunan berbentuk rumah Honai  yang berada di tengah persawahan. Resort miliki I Gusti Ngurah Agung Mahajaya ini merupakan perwujudan kecintaannya terhadap pengalaman masa kecilnya yang pernah tinggal dan menetap di Papua ketika mengikuti orangtuanya yang bertugas di sana.

Baca Juga: Perempuan Papua dan Noken Khas Papua

Bahan dan Bentuk Rumah Adat Papua

Honai merupakan rumah adat Papua. Di Papua sendiri, Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk  kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai sengaja dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela yang bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan  pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang hewan (disebut Wamai) Rumah Honai biasa ditinggali oleh 5 hingga 10 orang. Rumah Honai dalam satu bangunan digunakan untuk tempat beristirahat (tidur), bangunan lainnya untuk tempat makan bersama, dan bangunan ketiga untuk kandang ternak. Rumah Honai pada umumnya terbagi menjadi dua tingkat. Lantai dasar dan lantai satu dihubungkan dengan tangga dari bambu. Para pria tidur pada lantai dasar secara melingkar, sementara para wanita tidur di lantai satu.

Walau kemudian seiring dengan perkembangan zaman, konstruksi  rumah honai di Papua sendiri mengalami beberapa penyesuaian agar lebih sehat untuk dihuni, masyarakat dan pemerintah tetap menjaga agar tidak melenceng atau merusak nilai dan adat istiadatnya. Rumah Honai, tetap akan menjadi jati diri masyarakat Papua, dan warisan yang harus selalu dijaga.