Jadi Duta PON XX Nagita Slavina Tuai Banyak Kritikan
beritapapua.id - tangkapan layar video (youtube/rans entertainment)

Setelah terpilih menjadi duta Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua, Istri Raffi Ahmad, Nagita Slavina langsung tampil mengenakan busana adat Papua.

Namun, penampilan artis Nagita Slavina dengan busana adat Papua tersebut malah justru menuai kritik atau protes keras dari kalangan netizen.

Kritikan atau protes tersebut terlihat banyak terjadi di Twitter seperti dari cuitan seorang akun @gyozagonza. Akun tersebut menuliskan dan berkomentar tentang potret Nagita Slavina yang berbusana adat Papua.

“Karena tidak ada lagi perempuan Papua Barat untuk mewakili budaya mereka sendiri. Apropriasi (kesadaran terhadap budaya) tuh bukan cantik ya,” cuit akun @gyozagonza dalam bahasa Inggris, dikutip Senin, 1 Juni 2021.

Cuitan akun @gyozagonza kritik Nagita Slavina
Cuitan akun @gyozagonza kritik Nagita Slavina

“Dan berhenti membuat alasan untuk perempuan ini (Nagita) dia bisa saja menolak ketika mengetahui dia bukan orang Papua. Berhenti membuat alasan untuk bukan Orang Asli Papua (OAP), dia dewasa kan, dia bisa saja menolak,” sambung akun @gyozagonza.

Dari cuitan tersebut tampak ada kecewaan mengapa tidak menunjuk orang asli Papua saja untuk menjadi duta PON XX di Papua. Tentu, perspektif cantik tidak melulu identik dengan kulit putih.

“Bikin alasan terus untuk non-OAP, meskipun mereka memiliki lebih banyak privilege dari ko. Heran kenapa standar kecantikan masih kulit putih atau rambut lurus dll. Masa non-OAP mewakili orang pribumi di tanah pribumi? Make it make sense,” tambahnya.

Mendapat Ratusan Retweet atau Respon

Hingga saat ini, cuitan tersebut sudah banyak direspon oleh pengguna twitter. Dan cuitan itu pun mendapat ribuan likes dan ratusan retweet. Selain itu, beragam komentar pun muncul dalam cuitan tersebut.

Netizen yang membalas cuitan tersebut pun banyak yang setuju akan protes akun tersebut.

Baca Juga : PON XX Kian Dekat, Dua Wilayah Ini Menolak Jadi Tuan Rumah

Meski untuk kepentingan engagement publik, namun banyak yang menilai Nagita Slavina tak bisa merepresentasikan perempuan dan adat Papua.

Selain itu ada juga yang turut mempertanyakan hal terkait terpilihnya Nagita bukan wanita lain yang lebih paham terkait budaya Papua sendiri.

“Gue sih nggak terlalu masalahin asalnya, tapi kenapa NS yang terpilih? Apa nggak ada wanita lain yang lebih mampu dan lebih paham budaya papua?,” ujar @roses_man.

“Mereka mulu. Pemerintah nggak kenal artis laen ya?” imbuh @ridho_iboek.

“Mace Pace lebih baik ketimbang anda,” timpal @dmncprz.

“Kritiknya ini sepertinya bukan Nagita nggak boleh jadi Duta PON, tapi soal apropriasi budaya Papua. Sebagai Duta PON ya Nagita pake aja baju sporty, atau apa kek. (Di sisi lain) Sedang ada operasi militer di Papua, tapol juga makin banyak; makin nggak pantes sembarang pake budaya Papua,” balas @Veronicakoman

Sejumlah kritikan keras dari para netizen tersebut tentu bukan berarti Nagita Slavina tidak boleh menjadi duta PON XX Papua, namun yang dipersoalkan ialah menyangkut apropriasi.

Tentu saja dikhawatirkan jangan sampai penampilan berbusana adat Papua tersebut tanpa pemahaman serta penghayatan terhadap budaya Papua sehingga terkesan hanya sekedar pencitraan yang bisa berujung pada eksploitasi budaya.

Sangatlah diharapkan oleh seluruh masyarakat Papua bahwa melalui event PON XX di Papua ini, harkat, martabat budaya, adat hingga tradisi orang Papua bisa diangkat, dijunjung tinggi, dan semakin eksis tentunya.