Jalan Panjang Menuju Legalisasi Ganja
Ilustrasi Ganja (foto : istimewa)

Jalan Panjang Menuju Legalisasi Ganja – Jeff Smith, artis sinetron pendatang baru di dunia selebritas kita ditangkap oleh pihak kepolisian karena mengonsumsi marijuana atau yang lebih dikenal dengan ganja. Ganja memang hingga kini masih menjadi narkotika yang dilarang melalui Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (UU 35/2009).

Tidak hanya itu, dalam penggolongannya, ganja adalah narkotika golongan I, yang dijabarkan di dalam Pasal 6 sebagai: “narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan”

Masuknya ganja sebagai golongan I dalam UU 35/2009, adalah secara absolut menafikkan segala riset medis mengenainya. Ganja pada saat ini sedang menjadi kontroversi. Banyak pihak yang sedang mengupayakan legalisasi ganja, melalui riset-riset yang mendalam.

Di Indonesia, terdapat beberapa komunitas yang telah lama mengupayakan agar ganja bisa dilegalisasi, untuk kepentingan medis. Lingkaran Ganja Nusantara dan Yayasan Sativa Nusantara telah melakukan riset bersama dan memaparkan hasilnya kepada pemerintah. Namun pemerintah Indonesia masih bergeming, meskipun sejumlah hasil riset telah dipaparkan.

Penggunaan ganja seperti hasil riset yang dirilis oleh beberapa badan penelitian, dipercaya dapat membantu mereka yang dirundung kecemasan. Menurut Scripps Research Institute seperti yang kami lansir dari merdeka.com, ganja juga diketahui bisa memperlambat Alzheimer.

Melawan Kanker dengan Ganja

Riset medis yang sangat mempopulerkan ganja sebagai bentuk terapi medis, adalah manfaatnya dalam mematikan gen kanker. Hasil penelitian ini dirilis dalam sebuah jurnal oleh Molecular Cancer Therapeutics. Menurut mereka, zat cannabidiol yang ditemukan di ganja, mampu mematikan gen ‘Id-1’ yang digunakan oleh sel kanker dalam penyebarannya.

Beberapa penderita kanker, telah menggunakan marijuana secara diam-diam sebagai bagian dari terapi pengobatannya. Salah satu kasus yang sangat menguras empati dari masyarakat adalah, kasus Fidelis yang divonis 8 bulan penjara karena mengobati istrinya menggunakan ekstrak marijuana.

Baca Juga : Depok, dari Padepokan Hingga Menjadi Sub-Urban

Istri dari Fidelis menderita penyakit yang bernama syringomylea atau kanker sumsum tulang belakang. Setelah mengumpulkan informasi mengenai penggunaan marijuana dalam terapi medis untuk kanker, Fidelis memutuskan untuk menanam marijuana sendiri.

Ganja yang ditanam oleh Fidelis itu, kemudian diekstrasi sendiri dan diberikan kepada istrinya sebagai bagian dari terapi. Apa yang dilakukan Fidelis ini berhasil. Istrinya pun berangsur pulih.

Namun naas bagi Fidelis, ia kemudian ditangkap oleh pihak kepolisian dan dijerat dengan Pasal 111 dan 116 UU 35/2009 perihal kepemilikan narkotika. Istri Fidelis yang bergantung pada pengobatan suaminya pada akhirnya meninggal tak lama setelah Fidelis ditangkap.

Masyarakat geram terhadap peristiwa ini. Hukum tak lagi memberikan keadilan, namun hanya memberikan sanksi. Istri Fidelis yang seharusnya bisa diselamatkan, terpaksa meregang nyawa karena ego dari para penegak hukum kita. Padahal, dalam menjatuhkan vonis, ada alasan pemaaf yang bisa meringankan hukuman dari Fidelis.

Ganja masih panjang perjalanannya selama para pembuat kebijakan di negeri ini masih berkutat pada nilai-nilai kolot yang konservatif. Perkembangan dunia medis, tidak dilihat sebagai sesuatu yang positif.

Mereka lebih memilih untuk menutup mata terhadap kemanusiaan, dan membuka mata terhadap peluang keuntungan. Inilah kenapa, hukum di negara ini akan tetap menjadi komedi yang tak kunjung lucu.