Jansen Hidroponik Garden, Kisah Ketahanan Pangan dari Papua
Beritapapua.id - Jansen Hidroponik Garden, Kisah Ketahanan Pangan dari Papua - Mongabay

Jansen Hidroponik Garden, Kisah Ketahanan Pangan dari Papua – Pandemi Covid-19 membuat masyarakat kelimpungan. Bukan hanya perkara kesehatan, ekonomi menjadi sektor yang kebakaran jenggot. Usaha mandek, pekerjaan putus, hingga lapangan pekerjaan yang sempit. Jangan berpikiran untuk memenuhi kebutuhan tersier. Untuk memenuhi kebutuhan pangan saja harus putar otak.

Karantina mandiri dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat jalur rezeki sebagian orang terputus. Untuk itu, perlu kreativitas dan upaya ekstra untuk dapat kembali pada keadaan normal. Salah satunya dilakukan oleh pasangan suami istri Yansen TD Regoy dan Josefina Iriani Kewamijai.

Pasangan suami istri asal Merauke, Papua, ini mulai menanam sayur dengan cara hidroponik. Awalnya, mereka berniat untuk mengurangi pembelian sayur. Alasannya sederhana: agar dapat terhindar dari virus Corona yang semakin menjadi-jadi. Berbekal ilmu dari Youtube, hasil panennya melimpah.

“Kita tidak punya rencana sama sekali untuk menanam tanaman hidropolik namun karena lockdown, kami dua berpikir akan lebih gampang menanam saja di rumah hingga tidak perlu keluar untuk membeli sayuran lagi,” kata Josefina dikutip dari mongabay.

Kini, kebunnya yang mereka beri nama Jansen Hidroponik Garden berhasil memenuhi kebutuhan sayur rumahan mereka. Tak hanya itu, kebun milik Yansen dan Josefina menjadi tempat belajar masyarakat.

Baca Juga: Mushola Dicoret Dengan Tulisan Yang Tidak Pantas

Dari Kebun Keluarga, Jadi Lahan Usaha

Jansen Hidroponik Garden, Kisah Ketahanan Pangan dari Papua
Beritapapua.id – Jansen Hidroponik Garden, Kisah Ketahanan Pangan dari Papua – Mongabay

Yansen dan Josefina tidak memiliki latar belakang pertanian. Terlebih Josefina yang sehari-harinya bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Merauke (RSUD). Namun, itu tidak menghentikan niat mereka.

Yansen mulai mempelajari seluk-beluk hidroponik secara daring. Kemudian, ia memberanikan diri untuk membuat 20 lubang tanah di atas rakit apung. Ia dan istrinya pun memulai kebunnya dengan menanam 3 macam sayur: kakung, sawi putih dan pakcoy.

Usaha pertamanya menjadi batu loncatan mereka. Keberhasilan percobaan pertama itu membuat mereka semangat untuk menanam lagi. Mereka mulai menjual hasil kebun keluarganya itu ke tetangga mereka.

Berbekal peralatan seadanya, mereka mampu memenuhi kebutuhan sayur keluarganya sendiri dan segelintir warga. Kala peminatnya semakin tinggi, Yansen dan Josefina mulai melebarkan kebun mereka.

Kini, mereka memiliki 12 pipa dengan total 250 lubang tanah (pot) yang siap tanam. Artinya, mereka bisa panen sekitar 200 hingga 300 batang sayur setiap tiga minggu. Pasalnya, masa panen sayur hidroponik beragam.

“Kalau kangkung, masa panen 27-33 hari dan sawi hijau dari 30-60 hari,” tutur Josefina.

Mereka menggarap kebun hidroponiknya tanpa bahan kimia. Untuk mengusir hama, mereka menggunakan air bawang putih. Sehingga, sayur hasil Jansen Hidroponik Garden lebih sehat dan segar.

Ke depannya, Yansen dan Josefina berharap agar kebunnya mampu menginspirasi warga lain untuk memenuhi kebutuhan sayur mereka pribadi. Mereka berharap kebunnya dapat menjadi lebih dari sekadar pemenuh kebutuhan pangan, namun juga edukasi.